Berita Sulut, 10 April, 2008


Siaran Pers Forum Pemantau Independent Pilcarek

FPIP Beber Fakta Pelanggaran Pilcarek Unsrat

 

Selama lebih dari 6 bulan, Forum Pemantau Independen Pilcarek (FPIP) Unsrat mendapati berbagai indikasi pelanggaran Statuta Unsrat, bahkan pelanggaran PP 60 tahun 1999 dan Kepmen nomor 284. Akibatnya pilcarek Oktober lalu, dinilai cacat hukum dan harus diulang. Intinya, telah terjadi degradasi kehormatan senat Unsrat yang disebabkan oleh pemahaman kekuasaan rector yang melebihi batas dan otoriter. Ini yang FPIP koreksi demi kemajuan Unsrat ke depan. Bukan disebabkan factor like or dislike. Perlu ditegaskan, keputusan pilcarek Unsrat harus diulang, murni merupakan hasil kerja keras FPIP Unsrat yaitu setelah FPIP membawa masalah ini ke Jakarta (Komisi Ombudsmen Nasional, Mendiknas, Dirjen Dikti, Irjen Depdiknas, Komisi X DPR RI, PAH III DPD RI, dan lain-lainnya). Bukan hasil politisasi oleh kandidat tertentu di Sulut atau di Jakarta.

 

Namun demikian, setelah melalui proses yang cukup berat, akhirnya pilcarek ulang dilakukan besok 10 April 2008. Tetapi sangat disayangkan, ternyata masih terdapat berbagai indikasi pelanggaran yang mengancam kehormatan senat universitas serta civitas akademica Unsrat. Praktek yang tidak mencerminkan perilaku akademik dan tidak terpuji tersebut antara lain money politic, black campaign, intimidasi dan bargaining.
 

Terdapat cukup fakta adanya indikasi money politics akan menjadi salah satu alat utama para kandidat carek atau tim suksesnya. Bahwa kandidat yang melakukan praktek money politic harus digugurkan, bahkan diseret ke peradilan pidana. Dan anggota senat yang menjual suaranya untuk kepentingan uang, bukan untuk kepentingan masa depan Unsrat, harus dieleminasi dari sistem-sistem yang diselenggarakan Unsrat. Kenistaan seperti itulah yang menghancurkan Unsrat.

 

Terindikasi pula adanya black campaign antar sesama kandidat. Praktik tidak terpuji ini, jutsru mengimplikasi bahwa pilcarek Unsrat telah diperlakukan seperti pilkades. Ini sangat memalukan. Calon pemimpin Unsrat yang terpilih karena andil black campaign, bukanlah pemimpin yang baik. Karena pemimpin Unsrat harus memiliki moral dan kemampuan yang tinggi.
 

Selain itu, praktik intimidasi juga terdeteksi telah terjadi sejak pemilihan calon senat wakil dosen yaitu petinggi fakultas maupun petinggi universitas mengintimidasi dosen pemilih. Forum juga telah mendapati adanya intimidasi dari para kandidat atau tim suksesnya terhadap anggota senat yang akan memilih rektor secara langsung.
 

Untuk itu FPIP menghimbau para anggota senat Unsrat untuk memilih sesuai hati nurani. Jangan takut terhadap intimidasi jabatan sekalipun pilihannya tersebut tidak menjadi rector, karena siapapun yang menjadi Rektor akan berhadapan dengan seluruh civitas akademica yang telah bertekat untuk melanjutkan reformasi di Unsrat. Jangan terpengaruh dengan politik uang. Rakyat Sulut sedang memperhatikan Anda.

 

Pengalaman FPIP selama lebih 6 (enam) bulan melakukan pemantauan, akan dituangkan dalam buku putih Universitas. Segala sesuatu, termasuk yang jelek-jelek, akan diabadikan dalam buku tersebut, untuk dipelajari oleh generasi penerus.