Siaran Pers Forum Pemantau
Independent Pilcarek
FPIP Beber Fakta Pelanggaran
Pilcarek Unsrat
Selama lebih dari 6 bulan, Forum
Pemantau Independen Pilcarek (FPIP)
Unsrat mendapati berbagai
indikasi pelanggaran Statuta
Unsrat, bahkan pelanggaran PP 60
tahun 1999 dan Kepmen nomor 284.
Akibatnya pilcarek Oktober lalu,
dinilai cacat hukum dan harus
diulang. Intinya, telah
terjadi degradasi kehormatan
senat Unsrat yang disebabkan
oleh pemahaman kekuasaan rector
yang melebihi batas dan otoriter.
Ini yang FPIP koreksi demi
kemajuan Unsrat ke depan. Bukan
disebabkan factor like or
dislike. Perlu
ditegaskan, keputusan pilcarek
Unsrat harus diulang, murni
merupakan hasil kerja keras FPIP
Unsrat yaitu setelah FPIP
membawa masalah ini ke Jakarta (Komisi
Ombudsmen Nasional, Mendiknas,
Dirjen Dikti, Irjen Depdiknas,
Komisi X DPR RI, PAH III DPD RI,
dan lain-lainnya). Bukan hasil
politisasi oleh kandidat
tertentu di Sulut atau di
Jakarta.
Namun demikian, setelah melalui
proses yang cukup berat,
akhirnya pilcarek ulang
dilakukan besok 10 April 2008.
Tetapi sangat disayangkan,
ternyata masih terdapat berbagai
indikasi pelanggaran yang
mengancam kehormatan senat
universitas serta civitas
akademica Unsrat. Praktek yang
tidak mencerminkan perilaku
akademik dan tidak terpuji
tersebut antara lain money
politic,
black
campaign, intimidasi
dan bargaining.
Terdapat cukup fakta adanya
indikasi money politics akan
menjadi salah satu alat utama
para kandidat carek atau tim
suksesnya. Bahwa kandidat yang
melakukan praktek money politic
harus digugurkan, bahkan diseret
ke peradilan pidana. Dan anggota
senat yang menjual suaranya
untuk kepentingan uang, bukan
untuk kepentingan masa depan
Unsrat, harus dieleminasi dari
sistem-sistem yang
diselenggarakan Unsrat.
Kenistaan seperti itulah yang
menghancurkan Unsrat.
Terindikasi pula adanya black
campaign antar sesama
kandidat. Praktik tidak terpuji
ini, jutsru mengimplikasi bahwa
pilcarek Unsrat telah
diperlakukan seperti pilkades.
Ini sangat memalukan. Calon
pemimpin Unsrat yang terpilih
karena andil black campaign,
bukanlah pemimpin yang baik.
Karena pemimpin Unsrat harus
memiliki moral dan kemampuan
yang tinggi.
Selain itu, praktik intimidasi
juga terdeteksi telah terjadi
sejak pemilihan calon senat
wakil dosen yaitu petinggi
fakultas maupun petinggi
universitas mengintimidasi dosen
pemilih. Forum juga telah
mendapati adanya intimidasi dari
para kandidat atau tim suksesnya
terhadap anggota senat yang akan
memilih rektor secara langsung.
Untuk itu FPIP menghimbau para
anggota senat Unsrat untuk
memilih sesuai hati nurani.
Jangan takut terhadap intimidasi
jabatan sekalipun pilihannya
tersebut tidak menjadi rector,
karena siapapun yang menjadi
Rektor akan berhadapan dengan
seluruh civitas akademica yang
telah bertekat untuk melanjutkan
reformasi di Unsrat. Jangan
terpengaruh dengan politik uang.
Rakyat Sulut sedang
memperhatikan Anda.
Pengalaman FPIP selama lebih 6 (enam)
bulan melakukan pemantauan, akan
dituangkan dalam buku putih
Universitas. Segala sesuatu,
termasuk yang jelek-jelek,
akan diabadikan dalam buku
tersebut, untuk dipelajari
oleh generasi penerus.