|
|
Berita Sulut, 15 April, 2008
Lestarikan Cagar
Alam Tangkoko Batu Putih
Laporan
oleh : Gina ‘Amanda’ Kussoy
Manado,
Sulutlink.com. Tim
Expedisi Sulut Bosami Network berkerjasama
dengan Wildlife Conservation Society, Pers
(ManadoPost, Kompas, The Jakarta Post, TVRI
Manado, TV5D), Akademisi Unsrat (yang juga
netters Milis SBN) menggelar camp out di
kawasan Cagar Wisata Alam Tangkoko, Jumat
11-12 April 2008, sekaligus brainstorming
Kolaborasi Inisiatif Pembentukan dan
Implementasi Program Cagar Alam.
Brainstorming dipimpin oleh para Pakar
Konservasi Ekology & Peneliti Satwa langka,
DR John Tasirin (WCS), DR Saroyo Sumarto (Akademisi
Unsrat). Sebanyak 23 orang peserta camping
ini terdiri dari Netters SbN, Pers,
Simpatisan, LSM, dan KPA (kelompok pencinta
alam) Tarantula.
Menariknya dalam acara camp out ini,
didemostrasikannya “Penjeratan Kelelawar”
dengan menggunakan Mist-Net, (yang nantinya
akan dilepaskan kembali) oleh WCS Iwan
Hunowu dan tim dari WCS, para peserta dengan
antusias mengikuti acara demi acara yang
digelar oleh para Pakar Konservasi & Satwa
langka ini, seperti Tarsius Wathcing, Night
Vision (bat-netting) dan Rimba Cruising.

Walaupun cuaca di Tangkoko sore dan malam
Jumat itu kurang bersahabat, tak menyurutkan
langkah para peserta untuk tetap semangat
menjalankan dan mengikuti Acara ini.
Kira-kira jam 19.30, ranger dari WCS,
membawa para peserta yang lengkap dengan
pakaian dan persiapan hutan, menembus
kegelapan malam yang hanya diterangi oleh
lampu2 senter, memasang Bat Netting (jala
kelelawar), untuk merangkap kelewar dan
memperlihatkan dan menerangkan jenis2
kelelawar yang akan dijerat. Selesai
pemasangan net, peserta diminta kembali ke
Base Camp, untuk diadakan Briefing Satwa &
Konservasi, sambil menunggu 1-2 jam sampai
Kelelawar terangkap di nett yang telah di
pasang. Malam itu WCS memasang 2 net
perangkap di lokasi berbeda, tak jauh dari
lokasi camping.
Brief yang alot dan panas berlangsung di
Tenda Camp Out, sambil menunggu jeratan
kelelawar. Insan Pers, begitu antusias
menanyakan dan mengorek semua informasi
mengenai Konservasi Tangkoko dan keberadaan
Satwa Langka di Cagar Alam Tangkoko Batu
Putih ini.
Setelah 2 jam, kami kembali ke net yang
telah dipasang, dan semua peserta (yang
kebanyakan baru pertama kali melihat
kelelawar secara langsung ini), berhura
gembira, melihat di net, telah terjaring
kelelawar sebanyak 7-8 , betina jantan,
maupun ‘ibu’ kelelawar yang baru melahirkan
yang bayinya menempel diperut sang ibu.
Acara yang ditunggu-tunggu yaitu Tarsius
Wathcing. Tarsius, binatang malam ini,
melakukan aktivitas dimalam hari, dan
menjelang subuh masuk ke ‘rumah’nya kembali
di pohon2 besar yang berlubang. Kami
menunggu ‘Acara Tarsius Kembali ke Rumah’nya
ini menjelang subuh, tepatnya antara pukul
5-6pagi. Komandan Tarsius, DR Saroyo,
mewanti-wanti kami semua peserta untuk
bangun pagi jam 4 dan langsung berjalan
masuk hutan menuju rumah-rumah tarsius di
dalam hutan tersebut.
Menyusuri kegelapan malam, kami anggota
peserta berjalan meninggalkan camp,
di’tingkahi’ oleh hujan rintik2, dan bunyi
lolongan binatang malam (spt burung hantu,
kodok, dll), terus naik ke gunung tangkoko
ini. Sedari pukul 4 pagi tadi kami berjalan,
dan tiba di lokasi Tarsius pukul 5 pagi,
dengan sedikit cahaya pagi yang menerobos
rimbunan pohon rindang dan besar. DR Saroyo,
mengadakan briefing singkat, dan menerangkan
bahwa, melihat aktivitas tarsius saat subuh
begini, kami mendapat ‘bonus’ aktivitasnya
yang tidak dapat dijumpai pada sore hari
saat mereka keluar pohon. ‘Bonus’ dimaksud
adalah, kami akan mendengar ‘DUET CALL”
antara Tarsius Betina (Ibu), Tarsius Jantan
(Bapak), sebagai pemimpin rumah tangga
tarsius yang hidup di pohon itu, karena
didalamnya terdapat anak-anaknya juga. Duet
Call (Duo-Call) ini, adalah Isyarat dari 2
jenis Tarsius berlainan jenis ini, utk
memastikan keberadaan masing2 masuk rumahnya,
jangan ada yang tertinggal diluar. Bunyi
suitannya berbeda, kalau betina, bersuit
pendek tapi nyaring, sedangkan yang jantan
bersuit panjang tapi suara rendah (mirip
bunyi pompaan ban). Terdiam dan konsentrasi
kami semua mendengar suitan yang sudah
mendekat pohon, mereka datang dari dari
belakang pohn tempat kami berdiri. Menurut
sang ahli, Tarsius di pohon itu sudah
‘habituasi’ dengan keberadaan orang/turis,
jadi, para Tarsius itu, seperti meresponi
kedatangan kami semua yang kaget dan exhited
dengan kamera ditangan dan lonjakan gembira,
Tarsius2 itu ‘ber-action’ didepan kami,
melompat dari satu dahan ke dahan yang lain,
nongkrong didahan, sambil melirik ‘sombong’
kebawah pada kami2 yang tertegun dan sibuk
dengan kamera/video, dll, kepala Tarsius
bisa memutar 180 derajat dari kepalanya,
jadi kami menyaksikan badannya menempel
ketat di batang dahan, menghadap kemuka,
sambil kepalanya melirik 180 derajat dibawah
pada kami dibawah pohon, dingin tanpa
expresi dengan mata yang melotot seperti
totosik. Beberapa ekor, mereka bergeliat
kesana kemari sebelum masuk rumahnya dalam
pohon besar didepan kami. Para wartawan,
dengan sabar dan tekun melongok, menempel
dipohon dan membidik kameranya, disela-sela
pohon dimana Tarsius sedang nangkring
didalam dan menantang kamera2 para wartawan.
Dengan demikian, lunas sudah, ‘hutang’ saya
kepada wartawan JakartaPost yang sejak dari
Jakarta, menelpon dan ‘memaksa’ saya utk
bisa menyakinkan dia bertemu dengan Tarsius.
Saya katakan sewaktu di Jakarta, saya
sendiri, baru pertama kali dan kalau saja si
Tarsius punya handphone, saya akan buat
appoitment dulu, canda saya.. Even, sang
Pakar, tak bisa memastikan karena semuanya
tak bisa direkayasa, itu kejadian alamiah.
Setelah Acara Tarsius, kami turun menuju
habitat Macaca Nigra (Kera ekor pendek) khas
Tangkoko, kami menyaksikan 1 komunitas
Macaca Nigra sekitar 30-an, bercengkerama,
berlarian2an bermain dipohon2, berayun-ayun
didahan, termasuk Macaca Nigra ABG pacaran
sambil bergelondotan, yang bocah2 menempel
manja di badan induknya, dan kamipun
menyaksikan kera emak dan bapaknya, maaf,
bersenggama, sedang kegiatan itu berlangsung
di ganggu oleh kera anak yang usil, serta
merta sang bapak loncat dan mengejar anak
kera yang usil tadi, tapi dengan gesitnya si
anak loncat diatas pohon, kami semua peserta
terkekeh-kekeh menyaksikan interaksi
tersebut. Bergabung bersama kami saat itu 2
pelajar Jerman dari Berlin University yang
mengadakan penelitian Kera tsb.
Siang hari, Kelompok Pencinta Alam Tarantula
bekerja sama dengan SBN, mengadakan aksi
Sapu Pantai, mereka menyisir pantai dari
ujung ke unjung mengangkat sampah & kotoran2
dari para pendatang, dan membakar bersama
kami didekat base camping. Pantai yang indah
disisi Hutan Tangkoko ini, masih asli dan
terawat.
Setelah, sapu pantai, kami kembali ke base
camp, mengikuti Konservasi Presentation oleh
DR John Tasirin, diskusi ini berlangsung
selama 3 jam, dihadiri juga oleh Polisi
Hutan Tangkoko, dengan berbagai rekomendasi.
Diskusi ini bertujuan untuk mencari Solusi
bukan ‘kambing hitam’ untuk menjaga
terjadinya Kepunahan & Perusakan Hutan,
karena kami semua sepakat bahwa Konservasi
ini penting untuk kelangsungan Generasi
berikut.
Acara ini ditutup dengan penyerahan bantuan
kepada KPA Tarantula (anak2 desa sekitar
tangkoko) atas nama Sulut Bosami Network
yang diserahkan langsung oleh Gina ‘Amanda’
Kussoy (Koordinator Program), Christy
Manarisip dan DR Christivany Lasut dari SbN,
DR John Tasirin & DR Saroyo Sumarto (Tim
Ahli Program).
|