|
Soroti Sejumlah Kasus
Korupsi di Sulut
Kajati Dihadiahi Krans
Orang Mati
Laporan: Budi H
Rarumangkay
MANADO,
Sulutlink.
Beginilah
jika aspirasi rakyat
tersumbat ! Akibatnya,
ratusan massa aksi dari
berbagai elemen turun ke
jalan. Ratusan massa
aksi dari Solidaritas
Aksi Berantas Korupsi (SABK)
Sulut, menilai, lembaga
peradilan di Sulut
mandul. Buktinya,
berbagai kasus korupsi
di Sulut tidak
ditindaklanjuti. Bahkan
terang Didi Koleangan,
Koordinator aksi ini,
sejumlah kasus di Polda
Sulut dan Kajati Sulut,
terkesan sengaja 'digantung'
untuk dijadikan mesin
ATM. Tak heran, Kajati
Sulut, oleh massa aksi
ini dihadiahi krans
orang mati sebagai tanda
matinya penegakan hukum
terhadap koruptor di
Sulut.
“Lembaga peradilan
terkesan hanya
pilih-pilih kasus.
Buktinya yang ditangkap
dan diadili hanya para
pencuri ayam, tapi kalau
kasus besar seperti
korupsi sengaja
didiamkan untuk
dijadikan mesin
ATM,”tandas Koelangan
saat demo di halaman
kantor Kejati Sulut,
Selasa (22/04).
Ditambahkan,
Terry Supit dan Syarif
Hidayat, koordinator
lapangan dan jenderal
lapangan SABK, reputasi
penegakan hukum anti
korupsi akhir-akhir ini
di Sulut, tampaknya
sedang berada pada titik
nadir, jika tak dibilang
nyaris tak berfungsi.
Berbagai kasus
“terhenti” di tingkat
penyelidikan dan
penyidikan oleh Polri
maupun Jaksa. Pagelaran
jelek ini kata mereka,
telah menciptakan
kegelisahan yang sangat
mendasar di masyarakat
Sulut, bahkan pada
beberapa kalangan
ditemukan sikap
hopeless
yang
menggerus semangat
pemberantasan korupsi
dalam arti luas di
masyarakat Sulut. Bahkan
pada kasus tertentu
terdeteksi adanya upaya
pembunuhan pada pelapor
korupsi.
Disayangkan Supit,
Hidayat dan Koleangan,
dalam berbagai
penanganan kasus korupsi,
Polda dan Kejati sering
berdalih menunggu hasil
pemeriksaan BPK atas
sebuah kasus. Akan
tetapi, berbagai dugaan
korupsi yang sudah
terang merupakan tindak
pindana korupsi yang
ditemukan BPK, ternyata
tidak ditindaklanjuti
oleh kedua lembaga ini.
Bahkan ungkap mereka,
hasil audit BPK tentang
penyimpangan APBD 2006
di hampir semua
Kabupaten dan Kota se
Sulut dengan total
kerugian ratusan miliar,
sama sekali tidak ada
tanda-tanda
ditindaklanjuti oleh
Polda dan Kejati Sulut.
“Pencurian
besar-besaran dari APBD
Kabupaten dan Kota se
Sulut mengakibatkan
adanya penyebaran korban
yang luar biasa di
rakyat jelata. Temuan
BPK tentang dugaan
korupsi PNBP Unsrat,
juga tidak ada tindak
lanjutnya,”ketus mereka.
Karenanya, para aktivis
SABK yang terdiri dari
masyarakat dan mahasiwa
Unsrat ini, menghimnbau
dan mengajak seluruh
komponen masyarakat
untuk mengawasi dugaan
“digantungnya”kasus-kasus
besar oleh aparat
penegak hukum untuk
kepentingan ATM.
Diingatkan mereka,
potensi konspirasi yang
cukup tinggi antara
tersangka korupsi dengan
operator penegak hukum
sangat kental. Kenapa ?
Sebab, para aktor
korupsi pada saat
berurusan dengan aparat
penegak hukum, tidak
saja sedang memiliki
posisi berkuasa secara
politis, tetapi juga
menguasai uang.
Menariknya, diantara
ratusan demonstran
terlihat puluhan warga
Desa Kema 3 ikut berdemo.
Mereka menuntut agar
oknum hukum tua desa
mereka yang terpilih
saat Pilkades lalu,
diperiksa keabsahan
berkasnya. Sebab menurut
Alex Sartono pemimpin
demo warga Kema 3, oknum
Hukum Tua yang juga
kandidat, incumbent
adalah terdakwa kasus
korupsi. “Harus
diperiksa sebab ada
dugaan kuat oknum Rektor
Unsrat ikut memainkan
Pilkades desa
Kema,”teriaknya.
Aksi demo itu sendiri
terbagi 2 kelompok. Yang
kemudian bertemua di
kantor Kejati dan demo
di kantor gubernur.
Sebelumnya, mereka
melakukan aksi unjuka
rasa di gedung dewan
Sario, Polda sulut,
Pengadilan Negeri
Manado.
Lantas apa tanggapan
Kejati Sulut ? Saat
menerima demonstran,
Wakajati SulutAbdul
Taufiq, mengaku gembira
karena masyarakat sangat
peduli dengan
pemberantasan kasus
korupsi di Sulut. Hal
ini katanya sejalan
dengan dengan Misi dan
Visi mereka. Namun
katanya, untuk setiap
laporan kasus korupsi
harus disertai dengaan
alat bukti. “Aparat
Kejaksaan mendukung
upaya masyarakat ini.
Namun berikan bukti
supaya jaksa mudah
menindaklanjutinya,”katanya
sesaat setelah dihadiahi
krans orang mati oleh
demonstran.
Sementara di halaman
kantor gubernur,
demonstran mendesak agar
ada komitmen dari
pemerintah provinsi
untuk menuntaskan
berbagai kasus korupsi
di Sulut, saat diterima
oleh Karo Hukum Boyke
Watuseke SH,. Khusus
untuk kasus desa Kema 3,
jelas Watuseke,
pemerintah provinsi
katanya mendukung
pemilihan ulang Pilkades
Kema 3. “Aspirasi ini
juga sebaiknya
diteruskan ke Pemkab
Minut, Deaan Minut dan
aparat kepolisian
setempat. Yang pasti
pemerintah mendukung
usulan p[ositif warga
Kema,”katanya seraya
menambahkan agar warga
tetap menjaga persatuan
dan kesatuan setelah
kembali ke desa mereka.
Berbagai kecaman dan
hujatan dilontarkan para
demonstran. Hal ini juga
bisa dilihat dari
berbagai tulisan mereka
di spanduk. “para pelaku
korupsi jangan diberikan
hak politik sebagai
pejabat publik”, Hei Ibu
Kajati (Titik Mokodompit)
bersihkan ini tanah
Nyiur Melambai dari para
Koruptor. Ingat !, ini
tanggung jawabmu sebagai
putri Sulawesi Utara,
ini kampungmu !,”Tolak
calon Rektor Unsrat yang
korupsi di KPUD
Sulut,”Periksa dan
batalkan calon oknum
hukum tua kema 3,”.
Berikut data kasus
beberan SABK yang tidak
jelas juntrungannya di
Polda Sulut:
-
Kasus Mobnas DPRD
Sulut yang di SP3
tanggal 6 September
2006.
-
SPPD Fiktif DPRD
Sulut masa bhakti
1999-2004.
-
Suap DPRD Kota
Manado untuk
menggolkan LPJ
Walikota.
-
Korupsi Dolog Sulut.
-
Korupsi sukucadang
PLTD di PLN
Suluttenggo yang
membuat rakyat Sulut
menderita pemadaman
listrik
berkepnajangan.
-
Makan -Minum Pemkot
Tomohon.
-
Pengadaan lata berat
Pemkot Tomohon.
-
Pengalihan dana
negara oleh DPRD
Talaud menjadi
pinjaman pribadi
anggota DPRD Talaud.
-
Kasus Deposito
Pemkab Talaud.
-
Kasus Jembatan
Bailey Talaud.
-
Kasus Alkes Irina E
RSUP Malalayang.
-
Mobnas Pemkab Minsel.
Sementara kasus -kasus
“lama” di Kejati Sulut
didominasi dugaan
korupsi dana kemanusiaan
(bencana alam dan
bantuan orang miskin)
dana dana pendidikan.
Dua sektor besar yang
merupakan prioritas
amanat konstitusi negara,
malah terjerembab di
tingkat Kejaksaan, yakni;
-
Dana Terminasi (Dinkesos
Sulut) yang tidak
menyeret aktor-aktor
utama pelaku korupsi
-
Pembangunan 60 rumah
pengungsi di Biaro (Kimpraswil
Sulut) yang tidak
sesuai Bestek.
-
Pengadaan BBR
Bolmong.
-
Pembangunan
perumahan pengungsi
di Wori.
-
Korupsi dana BOS
oleh Dinkes
Minahasa.
-
Unima (Bantuan hibah
pemprov 1 miliar dan
manipulasi jumlah
mahasiwa dan
subsidinya).
-
KPU Sulut.
-
MBH Gate.
-
Deposito Gate.
-
APBD Kabupaten dan
Kota se Sulut6 2006.
|