Bentengi Pendidikan Sulut dari PT Abal-Abal, Jual Beli Gelar sampai Professor Imitasi

Manado, Sulutlink.com – Tantangan berat dunia Pendidikan di Republik Indonesia, teristimewa di Provinsi Sulawesi Utara ada di Tahun 2019 mendatang. Salah satu contoh kongkrit betapa kualitas Pendidikan harus dipacu dan disulut dengan semangat mencerdaskan bangsa, ketika pencapaian datar hasil Ujian Masuk Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018. Minim peserta mencapai nilai standar, Passing Grade (PG). Bahkan dunia kerja di Sulut yang memberikan kompensasi lebih bagi pekerja (UMP Tertinggi di Indonesia), justru banyak menyerap Tenaga Kerja dari daerah lain yang memang bermutu.

Refleksi masa sebelumnya sampai Tahun 2018, yang mestinya jadi pelajaran berharga di Tahun 2019 nanti, diutarakan Tokoh Pendidikan Sulut Prof. Daniel Carolus Kambey, MA., Ph.D exclusive kepada Sulutlink.com. Menurutnya, selama ini dunia pendidikan buram dan berkabut. “Orang lebih mendewakan gelar daripada kualitas keterampilan.” Tutur suami dari Prof. Ellen Kambey, MA., Ph.D dan ayah dari Dr. Joseph Kambey, MBA itu.

Lelaki yang pernah menjabat Direktur Sekolah Pascasarjana (PPS) Universitas Negeri Manado (UNIMA) memandang sedih karena justru banyak guru yang menjadi pola anut (teladan) generasi bangsa malah ramai-ramai mengejar gelar, tanpa memikirkan manfaatnya pada bidang pekerjaannya. “Mereka berani bayar sampai 9-10 juta dan tidak malu diketahui oleh anak istri/suami bahwa gelar itu diperoleh secara haram tanpa menghadiri ruang kuliah.” Sebut Kambey.

Para pengguna gelar instant yang memang dibeli itu, sama sekali berpikir biasa saja dan orang kebanyakan pasti memaklumi. Sebab, mereka juga mencontoh dari para pimpinan di instansi yang sama, melakukan hal yang tidak berbeda pula. “Lebih lucu lagi tidak perlu gelarnya apa asalkan level magister. Masak’an guru matematika gelarnya MM. Mereka tidak merasa bersalah karena atasannya juga turut membeli gelar membeli gelar.” Kata pria yang hobby memelihara ternak dan tanaman ini, di akhir Tahun 2018.

Sisi buruk guru yang mendidik siswa, tidak beda jauh dengan dosen yang mendidik mahasiswa. Mantan Ketua Lembaga Mutu UNIMA itu juga miris dengan oknum dosen Perguruan Tinggi Swasta yang tiba-tiba mengaku sebagai Professor (Guru Besar), padahal itu Prof Imitasi. “Tanpa mengikuti prosedur Dikti, sudah mendeklarasikan diri sebagai Professor. SK-nya nda tau dari mana? Kelihatan ladang Perguruan Tinggi abal-abal dari Jawa adalah Sulut. Mereka sering panen besar.”, urai Pria 70 Tahun yang masih terkesan muda karena gemar gerak badan dan terlibat dalam berbagai kegiatan komunitas pemuda. Ia berharap Tahun 2019 adalah momen penting membentengi Sulut dari praktek-praktek yang mencederai kualitas pendidikan.

You must be logged in to post a comment Login