EKSOSISTEM RISET MAKIN BAIK, PENDIDIKAN TINGGI MAKIN BERDAYA SAING

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir berbicara kepada wartawan dalam Bedah Kinerja Capaian Lima Tahun Kemristekdikti di Gedung Ristekdikti, Jakarta, Jumat (18/10/2019). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta, 21/10 Sulutlink – Dalam lima tahun pemerintahan periode 2014-2019 di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, sejumlah terobosan terjadi dalam dunia riset, ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi serta pendidikan tinggi.

Dengan melantik Mohamad Nasir sebagai Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia pada periode lima tahun pemerintahan itu, atmosfer pengembangan riset semakin kondusif dan perbaikan kualitas pendidikan tinggi serta sumber daya manusia semakin meningkat.

Pemerintah Indonesia khususnya Kementerian Riset, teknologi dan Pendidikan Tinggi melakukan penguatan kebijakan terkait ranah penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan. Tidak hanya itu, perguruan tinggi swasta yang dinilai “abal-abal” dengan mengeluarkan ijazah palsu juga ditutup. Pemerintah juga mendorong perguruan tinggi Indonesia untuk meningkatkan peringkatnya di kelas dunia.

Berbagai hasil riset Indonesia seperti dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan didorong untuk dipublikasikan ke dalam jurnal internasional sehingga meningkatkan jumlah dan kualitas publikasi internasional di kancah global.

Indonesia berhasil menduduki posisi tertinggi untuk jumlah publikasi internasional dan paten di Asia Tenggara (ASEAN) pada 2018.

Jumlah publikasi internasional milik Indonesia tiap tahun bertambah yakni menjadi 5.303 publikasi pada 2013, 6.694 publikasi pada 2014, sebanyak 8.263 publikasi pada 2015, 12.295 publikasi pada 2016, sebanyak  20.239 publikasi pada 2017, dan 34.007 publikasi pada 2018.

Para peneliti dan pengkaji terap teknologi juga dituntut untuk semakin memantapkan kualitas riset yang berdasarkan permintaan pasar (market atau demand-driven) untuk menjawab kebutuhan masyarakat, bangsa dan dunia industri.

Peningkatan publikasi ilmiah yang meningkat juga diikuti dengan peningkatan jumlah paten. Berdasarkan data dari World Intellectual Property Organization (WIPO), Indonesia sudah meningkatkan jumlah paten dari 1.058 sertifikat paten pada 2015 menjadi 1.109 pada 2016. Pada 2017 Indonesia sudah mencapai peringkat pertama jumlah paten di ASEAN dengan jumlah paten 2.271. Pada 2018 Indonesia masih menjadi negara dengan paten tertinggi di ASEAN dengan jumlah paten 2.841. Tidak hanya itu saja, sebanyak 6.584 hak kekayaan intelektual telah didaftarkan hingga 2018.

Hilirisasi dan komersialisasi riset semakin diperkuat sehingga hasil penelitian tidak hanya tertumpuk sebatas hitam putih dalam lembaran yang tersimpan hingga berdebu di perpustakaan. Mohamad Nasir menekankan riset yang dikembangkan lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga pengkajian dan penerapan teknologi serta perguruan tinggi harus mengarah pada hasil riset yang memberikan inovasi yang bisa langsung diserap pasar. (ANT/RT)

You must be logged in to post a comment Login