Fani Legoh Usul Budaya Minahasa Patut dibuat Perda sebagai Payung Hukum

DEPROV sulutlink.com – Fani Legoh prihatin dengan kondisi budaya Minahasa yang semakin terkikis, bahkan bisa hilang dari kehidupan generasi muda.

Ketua Badan Kehormatan DPRD Provinsi Sulawesi Utara yang juga anggota Komisi IV menilai perkembangan budaya minahasa diprediksi dalam kurun waktu 10 tahun kedepan akan punah.

Kita ketahui bersama misalnya bahasa dan adat istiadat sekarang sudah sangat kaku diucapkan dalam bahasa daerah kita sendiri.

“kan aneh, contoh kata salam ‘Tabea, sudah hampir punah, budaya Mapalus tidak terlihat lagi dan lebih dari pada itu saling menghargai ke umur yang lebih tua seakan habis dan hilang”. ungkap Fani, kepada media sulutlink.com Rabu (13/2 ).

Lanjut Legoh “melestarikan budaya daerah merupakan  identitas kita, sebab budaya juga memiliki peran sebagai perekat antar etnis  bermasyarakat dengan sesama etnis sehingga terbentuklah komunikasi yang baik.

Maka dengan adanya komunikasi yang baik semangat membangun melalui kebersamaan untuk bangsa dan negara ini juga akan berjalan dengan baik

Tak hanya terbatas soal budaya Minahasa, kita juga menaruh perhatian serius terhadap pelestarian budaya dari ketiga etnis terbesar di Sulut, “Mongondow, Minahasa dan Nusa Utara (Sangihe, Sitaro dan Talaud), terang FANI

Lanjut Pemerhati Budaya ini, “Permasalahan ini tentu tidak semata-mata hanya jadi tanggungjawab pemerintah.

Saya juga meminta semua elemen masyarakat di daerah ini, terutama para tokoh adat, tokoh agama, pemerhati budaya, untuk dapat bersama-sama memasifkan kampanye pelestarian budaya dari ketiga etnis yang mendiami wilayah Sulut,”

Menurut dia, pemimpin disetiap Desa dan Kelurahan haruslah memberikan perhatian besar terhadap pelestarian budaya disetiap wilayahnya karena hal itu menjadi jati diri masyarakat etnis itu sendiri.

“Saya perlu tegaskan bahwa pemimpin yang tidak mencintai dan melestarikan budaya kita, itu sama halnya dengan tidak beradab,” tukss FANI.

Pelestarian budaya di daerah harus mendesak dilakukan, tidak saja karena alasan ancaman degradasi oleh budaya dari luar, melainkan budaya ini adalah sumber penghidupan.

“Sudah banyak contoh, ada daerah yang warganya kreatif mengolah budayanya menjadi sumber penghasilan.

Makanya budaya dan adat istiadat kita bisa kita berdayakan,”

Ia mengusulkan agar 10 tahun kedepan tidak akan hilang budaya kita tapi wajib dibuat Peraturan Daerah sebagai payung hukum dalam upaya pelestarian budaya, dimana di dalamnya mengatur banyak hal, termasuk hubungannya dengan ajaran agama, yang terkadang bertentangan.

“Sebagai solusi dan jalan tengah, saya usul perlu ada perda yang mengatur semua hal terkait budaya,” pungkas, FANI LEGOH (Kta09)

You must be logged in to post a comment Login