Kerajinan Tangan Daong Pondang Ala Wale Klabat

Sulutlink. Daun Pandan atau lebih dikenal di Minahasa dengan nama Daong Pondang, memiliki serba manfaat. Di Minahasa, biasanya daun pandan menjadi salah satu bumbu masak, juga dipakai sebagai bahan pewangi kue, bahkan pembungkus kue.

Tumbuhan Pandan juga mudah didapat di halaman rumah bahkan di hutan sebagai tumbuhan liar.

Nah, rupanya selain menjadi bahan yang dapat dipakai untuk makanan, Pandan juga dapat dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tangan. Di Minahasa Utara sendiri sudah menjadi Usaha Kecil Menengah (UKM) yang dijalankan oleh Merry Karouwan melalui Wale Klabat di Airmadidi.

Bagaimana perkembangan UKM ini di Minahasa Utara? Mari kita simak uraian Merry Karouwan, pengiat Kerajinan Daong Pondang di Minahasa Utara.

Menurut Merry, ide Kerajinan Daong Pondang bermula dari pertemuan beberapa anggota organisasi Dharma Wanita Minahasa Utara di tahun 2013. Ketika itu terlintas dalam pikiran untuk mengadakan kegiatan jangka panjang yang bisa dijadikan usaha kecil dengan modal minimum tapi membanggakan. Nah, keluarlah ide Daong Pondang karena di Minahasa Utara terkenal dengan Kukis Pondang (kue pandan) dimana tumbuhan ini banyak tersebar di Sulawesi Utara.

Bahan Kerajinan Daong Pondang, memang berbeda dengan bahan yang digunakan untuk kue. Bahan untuk kerajinan biasanya tumbuh liar dan banyak ditemukan di wilayah Sulawesi Utara. Bahannya lebih kuat dan berakar keras, bersisik duri tajam, dan tidak berbau harum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di tahun yang sama, Merry pun menjelajah anyaman nusantara di sentra usaha kerajinan di Jawa, dan mendatangkan mentor untuk melatih ibu-ibu di Minahasa Utara. Lebih dari 300 peserta yang terjaring untuk dilatih, tapi hanya 4 orang pengrajin yang bertahan. Namun naluri pengusaha Merry tidak redup. Dia sadari bahwa di Sulawesi Utara masyarakat belum terbiasa dengan pekerjaan seperti ini, apalagi pada awalnya belum bisa menghasilkan keuntungan yang besar walaupun tidak membutuhkan modal yang besar.

Rintangan ini tidak menyurutkan semangat Merry untuk terus berinovasi dan melanjutkan usaha kerajinan tangan Daong Pondang. Hasilnya, saat ini Kerajinan Tangan Daong Pondang sudah terdaftar di Dinas Perindustrian Minahasa Utara dengan nama UKM Daong Pondang Wale Klabat.

Sekarang ini sedang diusahakan pembuatan Topi yang disebut Capeo. Diharapkan Capeo ini akan laris karena cocok dengan kondisi alam di Sulawesi Utara dan dapat menjadi souvenir bagi turis yang berkunjung di Sulawesi Utara, apa lagi Sulut sedang booming dengan turis dari Cina.

“Ini saya lakukan bukan untuk bisnis semata tapi ada keinginan kuat untuk bisa menghidupkan orang lain, dan ada kebanggakan dari pengrajin itu sendiri bahwa dia bisa menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang lain.” Ujar Merry kepada Sulutlink.

Saat ini bahan Daong Pondang telah diperbanyak di Wale Klabat Airmadidi. Menurut Merry, siapa yang ingin mengambil bibit, dipersilahkan.

Merry juga tidak lupa mengapresiasi pendiri UKM ini seperti ibu Anne Thomas, ibu Venny Kandouw, ibu Meis Kamagi, ibu Tanti Muroso. Juga dukungan dari ibu Khouni Rawung, ibu Deetje Sarundayang, dan ibu Alce Polii, atas didirikannya UKM ini. Dan dukungan dari rekan Veldy Umbas dan Sandra Rondonuwu dari Batik Minahasa. (Denny Sondakh)

You must be logged in to post a comment Login