Bangsa Gunung Api!
Oleh: Steven Y Pailah
Fenomena
letusan gunung api menyambut
Indonesia di
penghujung 2007 dan menjelang 2008.
Mulai dari
Gunung Karangetan, Soputan,
Merapi, Kelud, hingga Anak Krakatau
semuanya mengeluarkan asap putih dan
mengeluarkan hawa panas dalam
tubuhnya. Tak
bisa dipungkiri bahwa
Indonesia merupakan kawasan gunung
api yang paling aktif di bumi dan
memiliki gunung-gunung api mudah
meletus serta memuntahkan lava yang
disertai asap
beracun, pijar api, debu dan
bebatuan panas.
Gejala alam dapat juga menandai
karakter bangsa di mana masyarakat
Indonesia mudah marah, meledak,
mencaci bahkan membakar dengan api
kebencian. Pancasila yang sekiranya
tumbuh dan berkembang tak menjadi
air meneduhkan dalam perjalanan
bangsa ini. Sudah 62 tahun tapi
masih hidup dalam api
kebencian dan
penderitaan. Bukan hanya menderita,
namun juga memiliki kelainan dalam
mengurusi anak negeri. Para pemimpin
silih berganti, tak dapat menjadi
Bapak Gunung Api
yang baik dan mengayomi seluruh
rakyatnya.
Akumulasi persoalan bangsa tidak
mendapat saluran sistem pemerintahan
yang memadai sehingga kedalaman
solusi hanya mampu meredakan
problema akut dan sebatas permukaan.
Jika endapan emosi, kelantangan dan
dinamika rakyat tak dapat diredam
dan dipecahkan, sudah pasti akan
meledak lebih dasyat daripada
letusan gunung berapi. Konflik di
Aceh, Poso,
Maluku,
Kalimantan, Papua,
membawa wajah Indonesia
menjadi orang-orang murka terhadap
sesama. Gerakan separatis dan
pemisahan/pemekaran daerah merupakan
saluran amarah yang tak terbendung
atas kekuasaan pemerintah pusat.
Hal di atas sama halnya dengan
aktifitas gunung api. Apabila magma
dalam perut bumi tak mendapatkan
saluran yang tepat, maka ia akan
naik dan membentuk kumpulan lava
dengan daya ledak tinggi. Bukan
hanya gunung yang dapat meledak,
namun aksi terorisme pun dapat
meledakan bangunan kedutaan, kafe,
jalanan dan bahkan
memicu radikalisme atas nama
kebenaran ajaran
yang sempit.
Masing-masing amarah
sesungguhnya punya tingkatan
sebagaimana gunung api. Awas, siaga,
waspada, dan status
normal merupakan penilaian
bagi kekuatan destruktif. Jika
terjadi konflik, suhu politik akan
berubah menjadi titik didih yang tak
dapat dicarikan solusinya.
Masing-masing mendahulukan
kepentingan dan hak suaranya.
Sebenarnya, hanya di Indonesia yang
memiliki gunung api paling tua di
dunia dan masuk
Pacific Ring of Fire
atau cincin api pasifik.
Jika demikian, apakah yang kita
takutkan jika memiliki kekuatan
amarah sedasyat gunung api? Bukankah
ini adalah abad Asia,
abad juga bagi Indonesia dimana
telah diramalkan banyak orang?
Jika dipikir lebih lanjut, letusan
gunung api bisa membawa berkah.
Letusan gunung api mampu
mengeluarkan ribuan kubik batu-batu
yang dapat dijadikan sebagai bahan
bangunan. Tak kalah juga semburan
lumpur dan pasir dapat menjadikan
tanah di sekitar subur dan berguna
untuk pertanian.
Jika mau mengolah amarah, ada
baiknya mengolah kebhinekaan kita.
Karakter bangsa sudah jelas, mudah
marah dan bahkan cenderung panas
serta mudah terbakar. Jika energi
alam dan kemarahan masyarakat di
arahkan oleh pemimpin yang mumpuni,
maka kesuburan nilai-nilai Pancasila
akan tumbuh seia-sekata dalam
masyarakat. Jika amarah demonstrasi,
unjuk rasa, aksi protes dialihkan
untuk kegiatan produksi, maka akan
lebih membantu daripada kelelahan,
kepenatan ngotot, meleleh
otak dan otot melotot.
Semua terserah kepada nation van
koeli ini. Api kemerdekaan saat
ini diredupkan oleh kebencian,
kemarahan, dendam membara dan
hal-hal yang tidak berguna. Namun
semua juga tahu bahwa negeri ini
memang adalah kawasan yang tidak
stabil dan paling aktif di bumi.
Dinamika dan proses kelangsungan
hidupnya senantiasa membentuk suatu
hal yang baru dan bahkan berguna
bagi kehidupan umat manusia.
Mudah-mudahan
aktifitas beberapa Gunung Api
di atas
menjadi tanda amarah yang telah
lewat, bukan sebaliknya
yakni bencana
kemanusiaan yang justru
merugikan bagi seluruh anak negeri.
Dalam hal ini apa
yang harus disiapkan? Jika harus
mengungsi, bukan berarti kalah dan
tidak menjaga rumah serta harta
bendanya. Jika lawan politik yang
menang, bukan berarti membuat
keonaran dalam pilkada. Sebaliknya,
racun demokrasi yang membawa
perebutan kekuasaan harus
didinginkan dengan kehendak bebas
dan bertanggung-jawab. Lava hangat
dalam kekalahan pilkada biarlah
menjadi akrab dalam jabat-tangan
bagi sang pemenang. Lumpur yang
menggenani para wakil rakyat, harus
disucikan dalam api pencucian
kebenaran dan hati nurani yang
bersih.
Jika bangsa gunung
api ini mau belajar, amarah justru
dapat diubah menjadi energi
kemenangan dalam rangkulan
persahabatan dan kebhinekaan anak
negeri!