Artikel Sulut, 1 Mei, 2008


Bangsa Gunung Api!

Oleh: Steven Y Pailah

 

Fenomena letusan gunung api menyambut Indonesia di penghujung 2007 dan menjelang 2008. Mulai dari Gunung Karangetan, Soputan, Merapi, Kelud, hingga Anak Krakatau semuanya mengeluarkan asap putih dan mengeluarkan hawa panas dalam tubuhnya. Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia merupakan kawasan gunung api yang paling aktif di bumi dan memiliki gunung-gunung api mudah meletus serta memuntahkan lava yang disertai asap beracun, pijar api, debu dan bebatuan panas.

 

Gejala alam dapat juga menandai karakter bangsa di mana masyarakat Indonesia mudah marah, meledak, mencaci bahkan membakar dengan api kebencian. Pancasila yang sekiranya tumbuh dan berkembang tak menjadi air meneduhkan dalam perjalanan bangsa ini. Sudah 62 tahun tapi masih hidup dalam api kebencian dan penderitaan. Bukan hanya menderita, namun juga memiliki kelainan dalam mengurusi anak negeri. Para pemimpin silih berganti, tak dapat menjadi Bapak Gunung Api yang baik dan mengayomi seluruh rakyatnya.

 

Akumulasi persoalan bangsa tidak mendapat saluran sistem pemerintahan yang memadai sehingga kedalaman solusi hanya mampu meredakan problema akut dan sebatas permukaan. Jika endapan emosi, kelantangan dan dinamika rakyat tak dapat diredam dan dipecahkan, sudah pasti akan meledak lebih dasyat daripada letusan gunung berapi. Konflik di Aceh, Poso, Maluku, Kalimantan, Papua,  membawa wajah Indonesia menjadi orang-orang murka terhadap sesama. Gerakan separatis dan pemisahan/pemekaran daerah merupakan saluran amarah yang tak terbendung atas kekuasaan pemerintah pusat.

 

Hal di atas sama halnya dengan aktifitas gunung api. Apabila magma dalam perut bumi tak mendapatkan saluran yang tepat, maka ia akan naik dan membentuk kumpulan lava dengan daya ledak tinggi. Bukan hanya gunung yang dapat meledak, namun aksi terorisme pun dapat meledakan bangunan kedutaan, kafe, jalanan dan bahkan memicu radikalisme atas nama kebenaran ajaran yang sempit.

 

Masing-masing amarah sesungguhnya punya tingkatan sebagaimana gunung api. Awas, siaga, waspada, dan status normal merupakan penilaian bagi kekuatan destruktif. Jika terjadi konflik, suhu politik akan berubah menjadi titik didih yang tak dapat dicarikan solusinya. Masing-masing mendahulukan kepentingan dan hak suaranya. Sebenarnya, hanya di Indonesia yang memiliki gunung api paling tua di dunia dan masuk Pacific Ring of Fire atau cincin api pasifik.

 

Jika demikian, apakah yang kita takutkan jika memiliki kekuatan amarah sedasyat gunung api? Bukankah ini adalah abad Asia, abad juga bagi Indonesia dimana telah diramalkan banyak orang? Jika dipikir lebih lanjut, letusan gunung api bisa membawa berkah. Letusan gunung api mampu mengeluarkan ribuan kubik batu-batu yang dapat dijadikan sebagai bahan bangunan. Tak kalah juga semburan lumpur dan pasir dapat menjadikan tanah di sekitar subur dan berguna untuk pertanian.

 

Jika mau mengolah amarah, ada baiknya mengolah kebhinekaan kita. Karakter bangsa sudah jelas, mudah marah dan bahkan cenderung panas serta mudah terbakar. Jika energi alam dan kemarahan masyarakat di arahkan oleh pemimpin yang mumpuni, maka kesuburan nilai-nilai Pancasila akan tumbuh seia-sekata dalam masyarakat. Jika amarah demonstrasi, unjuk rasa, aksi protes dialihkan untuk kegiatan produksi, maka akan lebih membantu daripada kelelahan, kepenatan ngotot, meleleh otak dan otot melotot.

 

Semua terserah kepada nation van koeli ini. Api kemerdekaan saat ini diredupkan oleh kebencian, kemarahan, dendam membara dan hal-hal yang tidak berguna. Namun semua juga tahu bahwa negeri ini memang adalah kawasan yang tidak stabil dan paling aktif di bumi. Dinamika dan proses kelangsungan hidupnya senantiasa membentuk suatu hal yang baru dan bahkan berguna bagi kehidupan umat manusia. Mudah-mudahan aktifitas beberapa Gunung Api di atas menjadi tanda amarah yang telah lewat, bukan sebaliknya yakni bencana kemanusiaan yang justru merugikan bagi seluruh anak negeri.

 

Dalam hal ini apa yang harus disiapkan? Jika harus mengungsi, bukan berarti kalah dan tidak menjaga rumah serta harta bendanya. Jika lawan politik yang menang, bukan berarti membuat keonaran dalam pilkada. Sebaliknya, racun demokrasi yang membawa perebutan kekuasaan harus didinginkan dengan kehendak bebas dan bertanggung-jawab. Lava hangat dalam kekalahan pilkada biarlah menjadi akrab dalam jabat-tangan bagi sang pemenang. Lumpur yang menggenani para wakil rakyat, harus disucikan dalam api pencucian kebenaran dan hati nurani yang bersih.

 

Jika bangsa gunung api ini mau belajar, amarah justru dapat diubah menjadi energi kemenangan dalam rangkulan persahabatan dan kebhinekaan anak negeri!