Melirik Arsitektur Tradisional Bangunan Peninggalan Sejarah “Loji Tondano” di Minahasa

loji tondano dulu
Bangunan Loji Tempo Dulu

Bangunan Tua bekas peninggalan sejarah di Indonesia salah satunya Bangunan Loji Tondano, yang terletak di kelurahan Renegetan, Kecamatan Tondano, Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Asal muasal kata ‘Loji’ berasal dari kata loge berasal dari bahasa Belanda yang artinya kantor dagang Belanda VOC.

Bangunan ini pada jaman dulu bisa disebut dengan Gedung Loji didirikan sekitar tahun 1850, pernah digunakan pada jaman penjajahan Hindia Belanda di tanah Minahasa sebagai gudang penyimpanan kopi oleh VOC.

Bangunan yang memiliki nilai sejarah ini, dulunya juga digunakan sebagai bangunan pejabat tinggi hindia belanda atau tempat tinggal konteler (kepala distrik), begitupun kemudian pada masa penjajahan Jepang sampai terbentuknya pemerintahan Negara Republik Indonesia, bangunan ini memiliki peranan sangat berjasa yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan acara acara atau upacara penting dalam kegiatan setiap pemerintahan saat itu.

Bangunan Loji Tondano, yang terletak di kelurahan Renegetan, Kecamatan Tondano, Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara

Bangunan Loji Tondano, pada awalnya berada di lahan Kantor Bupati saat itu. Pada tahun 1979 oleh Bupati B.G.Lapian bangunan tersebut dibongkar dengan alasan karena lahan aslinya akan dibangun kantor bupati yang baru, hal ini sempat menjadi kontroversi disaat itu. Kemudian bangunan Loji Tondano berhasil dipindahkan ke tempat yang sekarang ini di Desa Rinegetan.

Sebelum dibongkar bangunan ini dijadikaan sebagai markas Kodim Minahasa yang sebelumnya ditempati Perguruan Tinggi Pendidikan Guru yang kemudian berkembang menjadi IKIP Manado dan sekarang menjadi Universita negeri Manado (UNIMA). Universitas Pinaesaan sebagai perguruan tinggi pertama di Sulawesi Utara diresmikan berdirinya di bangunan ini pada tahun 1953, memang sungguh benar Bangunan ini memiliki jasa dan nilai sejarah yang tinggi untuk Sulawesi Utara.

Sekarang mari kita melihat Arsitektur Tradisional Bangunan yang menjadi peninggalan sejarah ini.

Bangunan Loji ini berdenah empat persegi panjang, dengan ukuran 26,8 x 16,2 m2, bangunan  bentuk rumah panggung yang keseluruhan dindingnya terbuat dari kayu. Pada saat ini bagian dasar bangunan di topang oleh tiang beton yang berjumlah 45 buah dan bantalan kayu yang besar berjumlah 13 buah, dahulunya tiang peyangga ini terbuat dari kayu.

Arsitektur Bangunan Loji di dalamnya

Tata letak ruang terdiri dari Teras depan, ruang utama, kamar , ruang makan dan teras belakang. Untuk menuju teras melawati tangga 2 buah terbuat dari kayu dengan anak tangga 18 buah, yang terletak disebelah barat dan timur bangunan. Pada bagian teras terdapat juga tiang dari kayu yang berfungsi menopang atap teras, dengan jumlah tiang 10 buah. Pada bagian teras terdapat tiga pintu, berbentuk jelusi, panel, dua buah pintu untuk menuju ke kamar kekamar sedangkan yang satu lagi menuju keruang utama. Pintu menuju ruang utama juga terdapat dua buah jendela dengan bentuk daun jendela jelusi dandaun jendela ganda, dan diatas jendela dan diatas jendela dan pintu terdapat ventilasi berbentuk segi empat.

download (3)Ruang utama berdenah empat persegi dengan ukuran 24,96 x 16,34 m2. ruangan ini berfungsi sebagai tempat pertemuan. Pada ruangan ini terdapat dua buah pintu untuk menuju kamar tidur yang terletak disebelah barat dan timur. Kamar tidur pada gedung loji berjumlah enam buah, dengan letak kamar berhadapan. Pintu menuju kamar saling berhubungan.

Rungan makan letaknya sejajar dengan ruang utama hanya dibatasi oleh sekat yang terbuat dari dinding, ruang makan berukuran 6,13 x 8,99 m2, sedangkan ruangan selanjutnya adalah teras belakang, teras belakang terdapat tangga naik yang terdapat disebelah barat bangunan.

Pada era tahun 90-an anak-anak sekolah dibiarkan bebas untuk dapat bermain ke bangunan Loji, karena di bangunan ini terdapat tulang ikan paus, anak-anak pada masa itu senang untuk melihat tulang ini.

Bangunan Loji Tondano saat ini telah menjadi situs sejarah dan purbakala di Indonesia dan bangunan ini telah dipugar sebanyak 3 kali yaitu pada Tahun 1980, 2010, dan Tahun 2011. (Billy J.L)

 

Ref. Tumenggung cs, 1981, Artsitekur Tradisional Sulawesi Utara, Departemen pendidikan dan kebudayaan RI

 

You must be logged in to post a comment Login