MENCIPTA ‘TANDA MATA HEBAT’ PARIWISATA SULUT

Karya Tulis: Jeinner Jenry Rawung

Selasa (18/10-2016), Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo kagum saat masuk salah satu Mall (Pusat Perbelanjaan) di Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Ia, menyaksikan Pertumbuhan Ekonomi yang maju pesat, persis data yang dilaporkan Gubernur Sulut Olly Dondokambey, SE bahwa Kunjungan Wisata ke Sulut naik signifikan. Jokowi langsung mengakui destinasi wisata Bumi Nyiur Melambai. “Ini sangat strategis sekali,” katanya.

Mantan Walikota Solo itu, memang telah memaklumkan Agenda Prioritas Pemerintahan (Nawacita), poin “Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik”, termasuk pertumbuhan Ekonomi bidang Pariwisata. Anggaran infrastruktur terus disalurkan, sehingga Ekonomi Kerakyatan di Sektor Pariwisata juga naik. Rasionalnya, jika dunia Pariwisata Sulut maju, maka kontribusi PAD meningkat, menyerap tenaga kerja, kemiskinan dientaskan, masyarakat sejahtera dan menghasilkan generasi kompetitif.

UU RI No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan, khususnya Pasal 1:4 menyatakan bahwa “Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan pengusaha.”. Tujuan Pariwisata dalam Pasal 4 diantaranya adalah : meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat, menghapus kemiskinan, dan mengatasi pengangguran.

Ini sinkron dengan Visi Sulut 2016 – 2021, yakni : “Terwujudnya Sulawesi Utara berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam pemerintahan dan politik, serta berkepribadian dalam berbudaya.” Misi yang ditetapkan, diantaranya : ‘Mewujudkan Sulawesi Utara sebagai destinasi investasi dan pariwisata yang berwawasan lingkungan’ dan ‘Mewujudkan Sulawesi Utara sebagai pintu gerbang Indonesia kawasan timur’. Aktualisasinya adalah Program OD-SK (Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan).

Berbagai hal yang perlu dibenahi adalah Infrastruktur Objek Wisata, Pengelolaan objek yang melibatkan kearifan lokal, Pemeliharaan Kebersihan Objek Wisata, penyediakan SDM yang memadai serta mengorganisasi komunitas sadar Wisata. Kekuatan-kekuatan yang terlihat jelas adalah Investasi di bidang Pariwisata yang meningkat, Promosi di bidang IT maju (penetrasi media social) serta Sinergitas Stakeholders.

Kekuatan digenjot, membuat minat Wisatawan datang ke Sulut terus meningkat. Contohnya : Objek Wisata Lestari (bersih, indah dan aman), Promosi Maksimal, SDM Pariwisata dipacu untuk Kompeten dan total, serta Sinergitas semua stake holder yang difasilitasi Pemerintahan (responsive, transparan dan akuntabel). Tidak kalah penting, adalah Testimony turis yang telah mengunjungi Sulut dan merekomendasikan kepada teman/kerabat di negaranya.

Rekomendasi Wisatawan sungguh baik. Lebih dari 2 Tahun, kunjungan Turis Tiongkok ke Sulut, dahsyat. Kebangkitan Pariwisata Sulut berlaku 4 Juli 2016, ketika Turis tiba di Manado. Ini banyak kali dibahastulis pegiat Pariwisata Bung Dino Gobel. Biasanya hanya Bali dan Jakarta, tetapi kini Manado bergelora.

Obsesi Dr. G. S. S. J. Samratulangi yang dimatangkan Sinyo Harry Sarundajang dalam tulisan Geostrategik Sulut di Bibir Samudra Pasifik, telah dieksekusi manis Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw (ODSK). ODSK telah menjadikan Sulut pusat distribusi (Hub) Turis, Pintu Gerbang Indonesia Timur (Intim).

BANK WISATA

Berikut disajikan potensi wisata andalan Negeri yang Kaya dengan Cengkih, Pala, Kopra, Hasil Laut dan Pertambangan ini. Pertama di Kota Manado, ada Event Manado Fiesta, Bunaken, Siladen, Gunung Tumpa, Pantai Malalayang (Tugu Bobocha), Pulau Manado Tua, Kuliner Tinutuan Wakeke, Jembatan Soekarno, Kampung China, Kampung Arab, Kampung Kakas, TKB 45, Pura Jagadhita Taas, Patung Tuhan Yesus Memberkati, dll. Kalau di Minahasa ada Gunung Lengkoan, Bukit Kasih, Pantai Mahembang Kakas, Imam Bonjol, Urongo, Benteng Moraya, Rumah Belanda, Air Terjun Tincep, Rafting Nimanga Timbukar, Air Terjun Kali, Danau Tondano, Skyline Koha (Tetempangan Hill), dan lain-lain.

Menuju Kota Tomohon ada penyelenggaraaN TIFF, Watu Sumanti dan Monumen Tua Lokon Pinontoan (Klenteng dan Gua Kayawu), Lokon, Mahawu, Danau Linou, Rurukan (Negeri di Atas Awan), Pasar Extreme, Air Terjun Tekaan Telu, Air Terjun Ranoweh, Tebing Welu, dll. Selanjutnya ke Kota ‘Cakalang’ Bitung ada Kampung Adat Danowudu, Lembeh (Pulau, Taman Laut dan Monumen Trikora), Cagar Alam Tangkoko (Tarsius), Kebun Penangkaran Hewan Tandurusa, Pantai Serena, Hutan Mangrove Pintu Kota, Pantai Baturiri, Pantai Batuangus, Patung Tuhan Yesus Memberkati, Gunung Dua Sudara, dan lain-lain.

Tempatnya Utu dan Keke yakni di Minahasa Utara ada Pulau Lihaga, Pantai Pal, Pantai Pulisan, Pantai Surabaya, Gunung Klabat, Pasir Timbul Nain, Air Terjun Tunan, Air Terjun Kima Atas, Waruga Sawangan dan Kuwil, Kaki Dian, dll. Di bagian Selatan yakni Minahasa Selatan ada Agrowisata Modoinding, Taman Purbakala Niatakan, Makam Penginjil Pdt. Sibold Ulvers Kumelembuai, Puncak Kawiley, Pantai Moinit, Air Terjun Popontolen, Taman ‘I Aa Amurang’, Pulau Sepatu Tatapaan, Sungai Maruasei, Batu Dinding, Pantai Alar, Batu Kapal Sapa, Gereja Belanda, Batu Tumotowa, dll. Sementara di Minahasa Tenggara lagi viral dengan Airkonde, Soputan, Pantai Lakban Ratatotok, Tumbak, Pulau Racun, dan lain-lain.

Datang di Kota Kotamobagu ada Pemandian Air Panas Matali, Goa Sia, Air Terjun Molimpungan Kobo Kecil, Air Terjun Mongkonai, Air Terjun Boliangonan Poyowa, Kolam Air Panas Banyuanget sumber Gunung Ambang, dll. Sebelumnya di Bolaang Mongondow (Bolmong) ada Pulau Tiga, Air Panas Bakan, Pulau Bongkil, Pantai Bungin, dll. Terus ke Bolmut ada Pantai Batu Pinagut, Pulau Keramat, Air Terjun Pontak, Makam Raja-raja Kaidipang, Pantai Batu Meja, Rumah Raja Komalig, Pantai Air Belanda, dll. Lanjut ke Bolsel ada Danau Pogidon, Pantai Ponii (Posigadan), Dermaga Cinta di Pantai Lungkap Pinolosian, Pantai Taman Hiu, Penangkaran Maleo, Pantai Binolantungan, Batukarat, Pulau Lampu, Pantai Torosik, Goa Paniki Lion, dll. Boltim pasti tidak kalah karena sekarang jadi sasaran wisatawan dengan Pantai Patokan dan Tanjung Silar (Jiko), Gunung Ambang, Danau Moat, dan lain-lain.

Menyeberang ke Sitaro ada Gunung Karangetang, Gua Tengkorak Liang Tembo, Pulau Makalehi, Pulau Mahoro, Danau Kapeta, Taman Laut Biaro, Gunung Ruang, Air Panas Lehi, Taman Laut Balirangen, Kebun Pala, dll. Lanjut ke Sangihe ada Gunung Api Bawah Laut Pulau Mangahetang, Gunung Api Bawah Laut Banua Wuhu, Taman Laut Kahakitang, Pantai Malahi, Gunung Sahendarumang, Taman Laut Nusa Tabukan, Pulau Bukide, Gua Burung Walet, Danau Kawah Gunung Awu, Puncak Pananenteng Lose, Air Terjun Pampanikian, dll. Jika ke Talaud, ada Pulau Miangas (Jokowi tembus), Pulau Sara, Monumen Tuhan Yesus Memberkati, Air Terjun Ampadoap, Pantai Karakelang, Kampung Adat Bannada, dll

UPAYA NYATA

Jika masyarakat concern dalam pengembangan bidang Pariwisata, maka Sulut bisa sejajar dengan Bali, Bromo atau Yogjakarta. Ini perlu komitmen kuat bersama, yang difasilitasi Pemeritah Daerah. Hal sederhana yang dapat dilakukan kita misalnya menjual Potensi Pariwisata (promosi) di media social (medsos), yang ternyata sangat efektif dan efisien. Contohnya : “Manado aman dan familiar, mari berusaha di bidang pariwisata”, “Marijo Ka Manado”, dan lain-lain.

Ikut berpartisipasi juga, mudah dilakukan dengan cara menjaga keamanan dan ketertiban, plus cinta kebersihan. Selain tidak buang sampah sembarangan, khusus warga pria tidak kencing sembarangan. Ini sebagai bentuk tanggung jawab secara bersama menjaga infrastrukur Pariwisata. Termasuk, melestarikan Cerita Rakyat/Dongeng turun temurun seperti ‘Burung Songkel & Tuama Keter’ Karya Jeinner J. Rawung (2013, dalam ‘Jokowi Orang Sonder’, Opini Harian Komentar, 20 Januari 2017).

TANDA MATA

Sebagai anggota masyarakat, melalui tulisan ini, saya coba mengusulkan beberapa potensi Wisata yang dapat dibangunkembangkan menjadi ’Tanda Mata’. Misalnya, di Kota Manado dibangun ‘Monumen Jarak’ di Pusat Kota Manado. Di Monumen itu, dicetak abadi Jarak dari berbagai Kota ke Manado. Misalnya Kota-Kota di Tiongkok seperti Changsa, Guangzhou, Wuhan, Sanghai, Shenzen, Chongqing, Chengdu dan Kunming, kemudian Seoul (Korea), Beogard (Serbia), Tokyo (Japan), dll. Lorong Anoa Kota Manado juga bisa dibentuk Komunitas Cinta Damai.

Tidak jauh dari Manado, tepatnya di Kota Tomohon, ada Kampung Kayawu, dimana terdapat Watu Sumanti, yang sehalaman dengan Klenteng. Sekitar 30 Meter ada Patung Tua Lokon Pinontoan dan ada Gua Buatan. Harusnya ini potensi ini dieksplor karena Minggu (12/8) bertepatan dengan Pengucapan Syukur Kota Tomohon, Penulis mengamati ada sekolompok anak muda melakukan ritual di Watu Sumanti. Alas kaki dilepas di luar karena menganggap tempat itu harus dijaga.

Di Kota Bitung ada juga Kampung Adat Danowudu Bitung yang perlu dikondisikan lebih menarik. Nah, di Minahasa ada Objek Gunung Lengkoan yang dikelilingi Kasuratan-Tondegesan-Kinali-Kiawa-Sonder, yang dapat dijadikan lokasi Hash/Hiking, Treking, Motocross, dll. Begitu juga dengan Lokasi Benteng Moraya Tondano dapat diinisasi pentas Tarian Kolosal Perang secara rutin. Terakhir, di Bolsel ada Objek yang belum dikembangkan yakni Wisata Alam Danau Sakti (Kecamatan Posigadan), dimana Danau itu menyambung dengan laut.

PENUTUP
Menikmati Kemerdekaan RI yang Ke-73 dan menyongsong HUT Prov. Sulut Ke-54, dalam upaya mencipta ‘Tanda Mata Hebat’ di atas, Penulis mengutip 3 Hal yang diucapkan Presiden Jokowi jelang Peringatan HUT RI pada Kamis (16/8-2018), yakni ‘Optimis, Terobosan & Berbagi’. Dapatlah dinyatakan bahwa “Mari terus OPTIMIS Dunia Pariwisata Sulut Maju, Mari ambil bagian membuat TEROBOSAN dan Mari terus BERBAGI Cerita Wisata kepada Sesama di Era Industri 4.0 dengan memanfaatkan Informasi Teknologi (IT) seperti Medsos”. Bravo Pariwisata Sulut!

You must be logged in to post a comment Login