Mengapa Klub Bridge Surut di Jakarta & Manado

Oleh : Bert Toar Polii

Penulis mulai menekuni bridge sejak tahun 1971 ketika tamat SMA. Awalnya dimulai dari Tondano kemudian berlanjut di Manado ketika kuliah di Fatek Unsrat.

Berkiprah di bridge untuk tingkat nasional pertama kali tahun 1974 di Magelang dan berakhir tahun 1977 ketika oleh Perusahaan tempat bekerja PT Asuransi Jiwasraya ditarik ke Jakarta.

Nah waktu itu di Manado klub bridge ada cukup banyak, yaitu : Maesa, Quens Heart Club, Wanea Aces, Volta, Prasetya, SBC dan lain-lain.

Selanjutnya ketika pindah ke Jakarta lebih banyak lagi, ada Maesa, Kris, RPA, Gabrial UI, Pattimura, Garuda, Buana, Bhinneka, Santai, Palupi. IBWI, Pengacara, BI Bridge Klub, BNI, Departemen Pertanian, Departemen Keuangan malah punya kejuaraan antar departemen dan lain-lain.

Pertandingan Antar Klub ramai saat itu. Demikian juga ketika mengikuti pertandingan, pemain akan bangga membawa nama klub.
Pertanyaan menggelitik, justru ketika PB GABSI sukses memasalkan olahraga bridge di kalangan anak muda malah klub bridge di Jakarta dan Manado malah surut berkurang jauh.

Di Manado hamper tidak ada yang bertahan dan muncul hanya ada klub bridge Toar Manado dan Raewaya Sulut serta CBS yang muncul baru-baru ini. Pernah ada juga Cross Fatek Unsrat. Di Jakarta tinggal IBWI, Gabrial UI, Bhinneka yang masih bertahan yang lain sudah terbang kemana entah.
Untung saja ada ACR, Djarum Jakarta yang muncul baru-baru ini serta STIS dan Gunadarma yang cukup aktif pada beberapa tahun terakhir ini.

Klub sebagai ujung tombak pembinaan ketika pemain bridge semakin banyak perlu segera dibenahi.
Ini memang pekerjaan berat tapi sudah diantisipasi oleh PB GABSI dengan rencana membuat Kejuaraan Antar Klub, Kabupaten/Kota secara berjenjang dengan puncaknya memperebutkan Piala Presiden di Jakarta atau kota yang ditunjuk.

Selain itu disusun juga program berkesinambungan, mulai dari program pemasalan Bridge Masuk Sekolah (BMS) dilanjutkan dengan TOT atau Training of Trainer kemudian memperbanyak sentra-sentra latihan, mendata Klub, Penggab/Pengkot dan Pengprov dan anggota, membuat aturan master point, memperbanyak turnamen bridge dan membuat kualifikasi turnamen sehingga pada akhirnya ada turnamen khusus untuk pemula dan untuk master dan yang terbuka buat siapa saja.
Semoga program ini bias berjalan sesuai rencana, tapi tentu saja dukungan dari Pengurus Provinsi sangat dibutuhkan untuk mensukseskannya.

You must be logged in to post a comment Login