Netty Pantouw: Anggaran Untuk Eceng Gondok Tiap Tahun Tertata di APBD, Danau Tondano Kapan Bersih

ANGGOTA KOMISI III DPRD SULUT
NETTY AGNES PANTOUW

Deprov (sulutlink.com), Legislator Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut) Netty Pantouw berpendapat persoalan gulma eceng gondok Danau Tondano tidak pernah tuntas, pada hal setiap tahun dianggarkan, namun tanaman gulma itu tak pernah selesai,” kata Pantow ketika (media sulutlink.com) kembali di ruang kerjanya, dimintai tanggapan seputar pembahasan RDP Komisi 3 (15/6/2020) yang lalu karena dalam pembahasan bersama mitra kerja juga menyentil soal anggaran penanganan eceng gondok.

Wakil rakyat dapil minut bitung ini prihatin tumbuhan gulma eceng gondok semakin memenuhi danau yang selain dijadikan sumber penghidupan nelayan seputar danau tondano, juga manfaat sumber air- nya. Bahkan danau Tondano, juga jadi salah satu destinasi kunjungan wisata domestik maupun mancanegara.

Netty Pantouw, juga mendesak pemprov untuk mengevaluasi penganggaran setiap tahunnya karena belum ada kejelasannya sampai kapan eceng gondok ini bersih dari danau Tondano

“Penegasan itu mengungkapkan pendapatnya setelah hasil kunjungan kerja komisi mereka ke Danau Tondano”

Baginya, danau ini sudah penuh dengan eceng gondok yang mengancam keberadaannya di Danau Tondano dari tahun ke tahun. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut secara khusus telah beberapa kali menatanya dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) hanya saja masalah eceng gondok tersebut, hingga kini belum juga selesai.

“Pemerintah sudah memberikan dana untuk penanganannya. Maka harus evaluasi anggaran ini, apakah peruntukkannya benar-benar tepat untuk eceng gondok,” tegas Pantouw

Wakil rakyat daerah pemilihan Minahasa Utara dan Kota Bitung itu menyampaikan dan berbicara keselamatan Danau Tondano yang adalah menyangkut hajat hidup orang banyak. Bukan hanya keindahannya melainkan pula sebagai sumber airnya.

“Danau Tondano adalah danau kebanggaan masyarakat Sulut bukan hanya keindahannya saja tapi karena sumber daya air-nya,” jelas politisi Partai Demokrat ini.

Selain itu menurutnya, Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga menggunakannya karena bermanfaat sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air. “Mereka membutuhkan saluran air dari Danau Tondano,” imbuhnya

Kemudian di sektor pertanian, semuanya mengambil dari air Danau Tondano bukan hanya masyarakat sekitar danau melainkan pula aliran sungai dari danau tersebut digunakan juga warga Minahasa Utara.

“Pengairan sawah mulai dari Minut, dari hulu ke hilir mengambil dari aliran Danau Tondano ini. Bisa berimbas pada kekeringan kalau tidak dilestarikan,” pungkas, Netty Agnes Pantouw (NAP)
editor: Karel

You must be logged in to post a comment Login