Timnas Bridge Menuju Lyon, Target Semi Finalis

bridge lyonSulutlink.com. Setelah lolos dari babak kualifikasi Zone VI Asia Pasifik pada The  51st Asia Pacific Bridge Federation Championships di Seoul, Korea Selatan, bulan Juni yang lalu, Timnas Open dan Ladies akan berangkat menuju Lyon, Perancis, mengikuti The 43rd World Team Championship yang  berlangsung tanggal 12-26 Agustus 2017.
Timnas Open akan berlaga di even Bermuda Bowl yang hanya diikuti oleh 22 negara terpilih dari berbagai negara di dunia. Sementara itu timnas ladies akan bertanding di even Venice Cup yang juga sama diikuti 22 negara terpilih.
Kejuaraan Dunia Bridge tahun ini bisa disamakan dengan World Cup dalam sepakbola yang hanya diikuti juara-juara di berbagai zone yang kuotanya telah ditentukan. Dari Zone Asia Pacific atau terkenal dengan zone VI hanya boleh diwakili oleh 3 negara.
Kontingen Indonesia yang terdiri dari :
  • Chief de Mission : Eka Wahyu Kasih
  • Tim Manager : Handojo Susanto
  • NPC Open Team : Santje Panelewen
  • Pemain : Henky Lasut/Freddy Eddy Manoppo, Denny Jacob Sacul/Franky Steven Karwur, Taufik Gautama Asbi/Robert Tobing.
  • NPC Ladies Team : Hendra Railis
  • Pemain : Lusje Olha Bojoh/Joice Grace Tueje, Suci Amita Dewi/Kristina Wahyu Murniati, Conny Eufke Sumampouw/Rury Andhani.
akan meninggalkan Indonesia pada tanggal 10 Agustus 2017 dengan pesawat KLM pukul 18.05 dari Cengkareng.
Pertandingannya sendiri baru dibuka pada tanggal 12 Agustus dan babak penyisihan berlangsung tanggal 13-19 Agustus 2017. Ke 22 regu peserta akan bermain setengah kompetisi atau 21 session yang  berlangsung 7 hari @ 3 session sehari.
Setelah babak penyisihan, 8 peringkat terbaik  lolos ke babak quarter final yang akan berlangsung secara sistim gugur sehingga babak final.
Kedua tim ini ditargetkan melaju sampai babak semi final. Memang bukan pekerjaan mudah tapi selama ini kita telah membuktikan Indonesia selalu mampu bersaing diperingkat atas tingkat dunia.
Di nomor open team, Indonesia diperkuat 2 pasangan yang pernah keluar sebagai Juara IOC Grand Prix pada tahun2000 di Laussane, Swiss, yaitu pasangan : Henky Lasut/Freddy Eddy Manoppo dan Denny Jacob Sacul/Franky Steven Karwur.  Kemudian pada tahun 2002 ketika Taufik Gautama Asbi/Robert Tobing ikut bergabung mereka mampu meraih medali perak di Kejuaraan Dunia Rosenblum Cup yang berlangsung di Montreal, Kanada. Selanjutnya pada tahun 2014, pasangan Henky Lasut/Freddy Eddy Manoppo yang lebih banyak diterjunkan di nomor senior, keluar sebagai juara dunia pasangan di Sanya, China.
Beruntung PB Gabsi berhasil menggabungkan kembali ketiga kekuatan ini sehingga rasanya target semi final itu bukan suatu beban.
Di nomor Ladies tim juga prestasi mereka tidak kurang moncer. Tahun 2011 di event yang sama di Veldhoven Belanda tim ladies Indonesia meraih medali perak hanya kalah dari Perancis di final.
Tahun 2014 mereka juga meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia di Sanya, China ditambah satu medali perunggu lagi dari pasangan Kristina Wahyu Murniati/Suci Amita Dewi yang diraih dari nomor pasangan.
Semoga dengan kehadiran Ketum PB Gabsi bersama timnas di Lyon akan memberi makna tersendiri sehingga hasil yang diperolah bisa maksimal.
Selanjutnya analisa secara tehnis.
Melihat data peserta dan hasil undian maka peluang open team jauh lebih terbuka. Pertama ada beberapa tim tangguh yang tidak bisa menyertakan pemain terbaiknya. Pertama, Italia salah satu kekuatan yang paling ditakuti di dunia bridge,  3 pasangan utama ditambah beberapa pemain utama tdak ingin memperkuat tim nasional sehingga mereka harus memanggil kembali salah seorang legenda bridge Benito Garozzo yang saat di Lyon, Perancis akan berusia 90 tahun.
Kedua, Belanda yang pada saat terakhir ditinggalkan oleh pasangan terbaik mereka karena kebetulan tanggal pertandingan bertepatan dengan liburan musim panas putra mereka dan mereka memilih bersama keluarganya saat itu.
Bulgaria juga dilanda masalah karena pasangan terbaik mereka juga mengundurkan diri , sebab Federasi Bridge Bulgaria menunjuk sponsor sebagai pemain inti dan mereka tidak setuju dengan putusan tersebut.
Keuntungan lain, dari undian yang sudah dilakukan praktis dalam 3 hari awal pertandingan belum bertemu lawan-lawan tangguh. Kesempatan ini jika dimanfaatkan dengan baik akan menaikan moral tim karena di awal sudah berada di peringkat atas.
Hal berbeda terjadi di Ladies team dimana hamper semua dating dengan kekuatan terbaik dan undian diawal juga kurang menguntungkan karena langsung berhadapan dengan tim tangguh.
Namun ini akan malah menjadi keuntungan sendiri jika timnas ladies kita sudah langsung menunjukan performa terbaik mereka di awal.
Kebiasaan terlambat panas mudah-mudah tidak terjadi karena ketiga pasangan baru saja menyelesaikan Kejuaraan Nasional di Sidoardjo baru-baru ini yang telah menjadi arena pemanasan sempurna buat mereka. Selain ikut event diatas, Bill Mondigir dan Giovani Watulingas yg awalnya berperan sebagai official, pada tanggal 21-26 Agustus akan diterjunkan di World Transnational Open Team Championship bergabung bersama Bambang Hartono/Bert Toar Polii yang akan menyusul tanggal 18 Agustus 2017. Terima kasih kepada para sponsor Djarum Foundation, Bank Mandiri dan BCA.

You must be logged in to post a comment Login