web analytics

Catatan Sepakbola Tukang Bridge : Inggris Akan Catat Sejarah Juara Euro 2020

Oleh : Bert Toar Polii


  1. Sulutlink.com – Inggris berpeluang menorehkan sejarah di Piala Eropa dengan menjadi juara Euro 2020. Peluang ini muncul setelah mereka mengalahkan Denmark di semi final dengan skor 2-1 tadi malam. Kalau itu terjadi Inggris  akan menjuarai pertama kali Piala Eropa. Keberhasilan ini akan melengkapi hasil manis yang mereka raih di kendang sendiri setelah meruntuhkan mitos kutukan semi final di kejuaraan ini.
    Dengan hasil ini Inggris akan berhadapan melawan Italia yang sebelumnya mengalahkan Spanyol melalui adu penalty di semi final lainnya.
    Pertemuan kedua tim ini di final telah diprediksi tukang bridge sejak berlangsungnya babak 8 besar yang secara kebetulan tepat.
    Sebelum menganalisa peluang Inggris vs Italia di final yang akan berlangsung di Stadion Wembley, London Senin 12/7 pukul 02.00 WIB atau hari Minggu 11/7 pukul 19.00 waktu setempat, mari kita lihat pertemuan kedua tim.
    Three Lions julukan tim Inggris bahkan tak pernah menang atas Italia di Piala Dunia atau Eropa. Rekor pertemuan kedua negara sepanjang sejarah adalah sebagai berikut:
    Piala Dunia 2014: Inggris vs Italia 1-2
    Piala Eropa 2012: Inggris vs Italia 0-0 (2-4 adu penalti)
    Piala Dunia 1990: Italia vs Inggris 2-1
    Piala Eropa 1980: Italia vs Inggris 1-0 Inggris bahkan tak dapat mengalahkan Italia dalam laga-laga internasional resmi (bukan persahabatan internasional) sejak partai Kualifikasi Piala Dunia pada November 1977.
    Selanjutnya bagaimana penampilan kedua tim di Euro 2020 ini.
    Italia di fase group begitu perkasa, mereka mengalahkan Turki dan Swiss masing-masing 3-0 kemudian Wales 1-0. Dibabak 16 besar mereka mengalahkan Austria 1-0, selanjutnya Belgia 1-0 dan di semi final Spanyol melalui adu penalty.
    Pada babak group sampai 8 besar, Italia mempertunjukan permainan menyerang yang indah sehingga penggemar sepakbola sangat terhibur. Mereka tampil penuh gaya, lebih berani, modern, penguasaan bola, tusukan dari sayap serta serangan gencar dari lini kedua.
    Tapi di semi final, Italia meninggalkan semua ini dan kembali ke catenaccio. Disini kita bisa melihat kehebatan Mancini yang menyadari, Spanyol ahli dalam penguasaan bola dengan tiki-taka yang sudah seperti mandarah daging di tubuh pemain Spanyol.
    Ia segera merubah taktik apalagi Spanyol tampil tanpa penyerang murni yang baru dimasukan sebagai pemain pengganti dan langsung mencetak gol, yaitu Morata.
    Dalam adu penalty, kematangan para pemain Italia serta keperkesaan Penjaga gawang Italia, Gianluigi Donnarumma menjadi penentu kemenangan.

Berbeda dengan Italia, Inggris hanya menang masing-masing 1-0 atas Kroasia dan Ceko serta draw dengan Skotlandia. Selanjutnya menggila di 16 besar membantai Jerman 2-0 kemudian Ukraina 4-0 dan terakhir Denmark 2-1.
Dalam menghadapi Jerman, Southgate juga merubah taktik yang selama ini sudah menjadi trade mark Inggris yaitu “kick and rush”, yaitu permainan bola dengan umpan-umpan cantik ke depan yang disertai dengan serangan-serangan tajam ke jantung pertahanan lawan.
Tapi melawan Jerman mereka tampil beda, kali mereka bermain dengan umpan-umpan pendek dan serangan beruntun yang dimainkan. Mirip-mirip Tiki-taka ala Barcelona, tapi dengan semangat dan kecepatan.
Memang Inggris tidak punya Messi yang bisa berakrobat dengan meliuk-liuk indah di depan. Tetap pemain-pemain muda Inggris yang dimotori oleh Raheem Sterling dan Harry Kane dengan berani masuk ke jantung pertahanan lawan secara bertubi-tubi dengan kerjasama dan umpan-umpan pendeknya. Jerman kewalahan dan akhirnya kalah.
Kedua pelatih Mancini maupun Southgate menyadari betul perkembangan sepakbola modern dan meracik strategi yang efektif sesuai perkembangan sepakbola terbaru, dengan materi pemain yang ada. Para pelatih harus jeli mengembangkan strategi dengan melihat, bahkan mencontoh strategi tim lain dan bahkan dari liga yang lain demi mencapai kemenangan.
Melihat hasil pertandingan dan kejelian pelatih serta materi pemain babak final akan berlangsung seru. Pemenangnya adalah penerapan strategi yang tepat dan daya tahan fisik para pemain.
Mengapa tukang bridge menjagokan Inggris?
Ada tiga alasan utama, pertama : Inggris tampil di kendang sendiri dan pasti akan didukung oleh para supporter. Pemain ke 12 ini sering menentukan hasil akhir. Supporter kedua tim tidak berimbang karena pembatasan akibat pandemic covid-19.
Kedua : Inggris telah melewati kutukan semi final.
Ketiga dan ini yang menjadi pembeda, lini belakang Italia memang Tangguh tapi diisi oleh para pemain gaek. Mereka pasti akan kewalahan menghadapi para pemain muda Inggeris. Disamping itu Inggris punya dua penyerang pencetak gol dalam diri Raheem Sterling dan Harry Kane yang tidak dipunyai Italia. Mari kita tunggu.

About Redaksi 2

Check Also

5th South East Asia Bridge Federation Cup & 38th ABCC di Bangkok 18-23 Desember 2023

Pengumuman menggembirakan datang dari The Contract Bridge League of Thailand yang memberitahukan mereka akan menggelar …