web analytics

CIRITA ORANG MINAHASA DOELOE!

Ini ceritra menarik dalam bahasa Melayu Menado Tempo Doeloe sehingga ada banyak kata-kata yang sudah tidak dimengerti oleh generasi muda masa kini. Agar semua bisa memahami cerita menarik ini tukang bridge mencoba menterjemahkan ke bahasa Indonesia yang diletakan di bagian bawah. CIRITA ORANG MINAHASA DOELOE.

Foto hanya ilustrasi (sc Fary Oroh blog)

———–
Ari mandak kalamaring dulu, kita ada dapa not di pesta kaweng. Tu pesta ada beking di los basar, di kintal sablah dodoku amper prampatan di strat muka, nyandak jao dari kantor Kumkadua. Tu.pesta katuk.memang rame. Yang dudu di puade, bukang cuma broit deng bredegom, mar komplet deng orang tua dua sablah. Tu broit katuk memang fasung, umur masih magori. Tu bredegom so sadiki.langkoy, mar katuk dapalia masi gaga. Ada tu dua tanta dudu di kadera sabelah pa kita,dapa dengar ada baku bise. Itu bredegom kata so balu. Dia pe isteri so mati kata, deng punya dua gai, yang masi kacili Tu jadi kumper waktu broit deng bredegom tulis nama di kantor bergerlegestan, kuntua deng dia pe jurtulis. Abis makang, kuntua batoki gelas. Tamu tamu so tau, itu sein kuntua mo bicara, kase nasehat pa tu laki bini baru. Kabiasaan memang bagitu. Nyandak ja pake protokol tu pesta. Yang mo ambe bagean bicara, tuang pesta so kase kode dengan katabelece, kong sosuru di bawa piring makang. Kuntua bapidato baapi api, dapa dengar rupa ada ba toreba pa broit deng bredegom. Dia bilang abis kaweng kata jangan cuma baforo turus di kamar. Cukup jo piara anak dua ato tiga orang, kong kata nyandak barat tu orangtua mo pikul. Jangan kata rupa dulu, satu rumahtangga anak riki 12 orang. Hele mo ator makang pe susa, deri tu piring cuma ada stenga doseng. Abis bicara for broit deng bredegom, kuntua baveto pa rayat yang ada di pesta. Kuntua bilang kata dia pe rakyat kalu bapesta ada doi. Mar sarta pala bajalang tagi blasteng, bilang pope ndak ada doi. Bagitu ley kata kalu dapa palakat mo merendis, cuma reken deng jare yang datang karja. Mar kalu ada pesta, korang rupa ovu pe banya tu datang. Klar kuntua bapidato, musik bambu batiop selewir padia satu donci pende..Tanda hormat, ganti paka tangan.
Abis acara makang, tu meja meja so kase bapinggir. Acara dansa mulai buka dengan dansa katrili. Ini dansa japake komando bahasa Portugis. Mar tu bakomando sandiri nyandak mangarti apa dia pe arti tu kata kata dia dacumu. Mar herang, samua yang ada Iko katrili, rupa mangarti tu kumando pe arti. Dorang capat ganti gerakan. Garap mar sadap ja tengo. Tu bredegom deng broit bajalang baku kele di paling muka Di belakang pa dorang ada dua nona broitmeisyes yang ja angka tu broit pe sloyor panjang, jangan somo kotor jahela di.lante. Samua tete nene, om tanta, nyong nona baku iko dansa katrili, ron tu los basar tampa pesta. Abis katrili, musik molai tiop rupa rupa donci for badansa. Ada dansa kolcis, wals, tenggo, bugiwugi, jaif, mars deng laeng laeng. Pendeknya rame skali tu pesta sampe sore. Dia pe malang sambung khusus pesta dansa for orang muda. 😀😀😀

Catatan: Sapa yg mangarti ini cirita, dia pasti so tua atau so opa-oma.😂😂😂😂
#cerita dari Phill M Sulu.

Untuk membantu yang muda-muda, tukang bridge coba menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti ini :
Hari Senin dua hari yang lalu, saya diundang untuk hadir di pesta perkawinan. Itu pesta dibikin di ruang terbuka yang luas, di halaman sebelah jembatan dekat perempatan jalan muka, tidak jauh dari kantor Hukum Kedua. Itu pesta jujur memang ramai sekali. Yang duduk di kursi penganten bukan hanya pengantin putra dan pengantin putri, tapi lengkap dengan kedua orang tua mereka. Itu pengantin putri memang cantik, umur masih muda. Itu penganten putra sudah sedikit berumur tapi masih gagah dan tampan. Ada dua ibu-ibu yang duduk di kursi sebelah saya yang saling berbisik. Itu pengantin pria katanya sudah duda. Isterinya sudah meninggal katanya dan punya dua anak masih kecil yang jadi saksi waktu Pengantin putra dan putri tulis nama di kantor BS (dukcapil sekarang) bersama Hukum Tua dan Jurutulisnya.
Habis makan, Hukum Tua mengetuk gelasnya. Tamu-tamu sudah tahu semuanya, itu kode Hukum Tua mau pidato, memberi nasehat untuk suami isteri baru. Tradisi memang seperti itu. Tidak ada protocol di pesta ini. Yang diberi kesempatan untuk bicara telah diberi nota oleh tuan rumah, yang diselipkan dibawah piring makan.
Hukum tua pidatonya berapi-api, terdengar seperti sedang menghardik pengantin putra dan putri.
Dia bilang habis kawin jangan hanya mengeram terus di kamar. Cukup urus anak dua atau tiga orang, agar tidak berat tugas sebagai orang tua yang harus dipikul. Jangan seperti dulu, satu rumah tangga bisa memiliki anak sampai 12 orang. Untuk atur makan saja susah karena piring yang tersedia hanya setengah lusin.
Habis menasehati pengantin putra dan putri, Hukum Tua menghardik rakyatnya yang hadir di pesta itu.
Hukum Tua bilang, rakyatnya kalau pesta ada uang. Tapi kalau tapi kalua dia bajalan tagih pajak, bilang kantong kering alias tidak ada duit. Contoh lain kalau ada pengumuman mau mapalus, hanya bisa dihitung dengan jari yang dating bekerja. Tapi kalau ada pesta, yang dating itu banyak seperti lebah banyaknya.
Selesai Hukum Tua pidati, music bamboo berbunyi menyumbangkan satu lagu pendek buat Hukum Tua. Tanda hormat, tepuk tangan.
Selesai acara makan, semua meja dipinggirkan. Acara dansa dimulai dibuka dengan dansa katrili.
Dansa ini memakai komando bahasa Portugis. Walaupun yang bertugas menjadi komandan tida mengerti apa arti kata yang dia ucapkan. Tapi herannya, samua yang ada ikut dansa katrili, seperti mengarti arti yang diucapkan komandan.
Mereka cepat sekali ganti gerakan. Lucu tapi enak dilihat.
Itu pengantin putra dan putri berjalan di depan sambal bergandengan tangan. Di belakang mereka ada dua nona pengiring yang bertugas mengangkat tudung wajah pengantin wanita yang panjang agar jangan kotor karena ditarik di lantai. Semua Opa, oma, om,tante, nyong dan nona ikut dansa katrili, berputar mengeliling ruang terbuka tempat pesta. Selesai katrili, musik mulai meniup macam-macam lagu untuk berdansa. Ada dansa kolcis, wals, tenggo, bugiwugi, jaif, mars dan lain-lain. Pokoknya sangat ramai pestanya dan berlanjut sampai sore. Malamnya pesta bersambung tapi khusus pesta dansa untuk yang muda-muda.
Catatan: Siapa yang mengerti cerita ini, dia pasti sudah tua (lansia) atau so opa-oma.

About Redaksi 2

Check Also

Mario Mambu/Cliff Tangkuman dari Raewaya Sulut Perkasa di Seleknas AG 2022

Oleh : Bert Toar Polii Sulutlink.com – Mario Mambu/Cliff Tangkuman dari Raewaya Sulut Perkasa di …