web analytics

Kontroversi Pemain Naturalisasi

Oleh : Bert Toar Polii


Sulutlink.com
– Perlukah pemain naturalisasi untuk memperkuat tim nasional sepakbola Indonesia?
Pertanyaan ini muncul ketika pelatih tim nasional asal Korea Shin Tae-Yong mengajukan 4 nama pemain keturunan yaitu : Kevin Diks (FC Copenhagen), Sandy Walsh (KV Mechelen), Mees Hilgers (Twente FC), dan Jordi Amat (KAS Eupen) untuk di naturalisasi. Kevin Dicks kemudian batal dan digantikan Ragnar Oratmangoen.
Shin Tae-yong mengatakan, permintaan terhadap empat pemain itu sudah melalui pertimbangan matang. Satu di antaranya dia meyakini bahwa Timnas Indonesia bakal tambah kuat. “Kalau ada empat pemain itu di Timnas Indonesia, pasti Timnas akan lebih kuat di Asia Tenggara, ujar Shin Tae-yong, saat acara pelepasan Timnas Indonesia ke Turki, Kamis 11 November 2021.
Walaupun membutuhkan pemain keturunan STY berjanji tetap akan menomor satukan pemain yang lebih baik tanpa membedakan pemain keturunan atau yang asli asal Indonesia.
Pengamat sepak bola nasional, Muhammad Kusnaeni mendukung ide ini dan mengatakan, menaturalisasi pemain saat ini merupakan fenomena global, yang tidak bisa dihindari untuk mencapai prestasi.
Naturalisasi bukan hanya dilakukan Indonesia. Hampir semua negara pecinta sepak bola melakukannya. Kusnaeni mengacu pada Prancis, Jeman, dan Belanda. Tiga negara adidaya di sepak bola dunia itu memiliki banyak sekali pemain keturunan dan naturalisasi.
Cuma, menurut Kusnaeni hal penting yang perlu diperhatikan PSSI untuk naturalisasi pemain Indonesia adalah prestasi dan relevansi.
Untuk hal pertama, Kusnaeni menyebut apa yang dilakukan Shin Tae-yong sudah tepat. Empat nama pemain tersebut kualitasnya bukan kaleng-kaleng dan sudah terbukti di kompetisi Eropa.
Namun disisi lain ada juga yang menolak bahkan mengkritisi Langkah ini. Penulis pilihkan pendapat mantan pelatih Timnas Indonesia U-19, Fakhri Husaini.
Sosok yang getol melakukan pembinaan pada pemain usia muda itu menyindir tagline yang selama ini melekat dengan Timnas Indonesia yakni ‘Percaya Proses’.
“Ternyata yang dimaksud dengan “Percaya Proses” adalah “Percaya Proses Naturalisasi”, ya….Mantapss,” tulis Fakhri, sambil menambahkan emoji menangis di akun Instagram-nya.
Mengamati fenomena ini, tukang bridge disatu sisi setuju dengan Fakhri Husaini terutama untuk mengutamakan pemain asli.
Namun membaca penjelasan Coach Shin Tae-Yong ternyata ia juga tidak melupakan hal ini.
Sepertinya ada beberapa pengalaman menarik yang ditemui Shin Tae-Yong setelah hampir setahun melatih Indonesia sehingga ia mengajukan nama beberapa pemain yang dibutuhkan untuk memperkuat tim nasional Indonesia.
Pertama masalah teknis permainan, sepertinya Indonesia berkali-kali keteteran saat menghadapi bola mati dan Coach STY membutuhkan pemain yang jago menghalau bola mati dan untuk itu tinggi badan dan postur tubuh yang kekar sangat dibutuhkan.
Kedua menurut tukang bridge adalah masalah disiplin. Pemain Indonesia walaupun sudah terjun sebagai pemain pro tetap saja dalam hal disiplin masih parah.
Contoh kecil disampaikan STY mengenai hal ini : “Pelatih dan staf turun dari bus masuk ke lapangan dalam waktu 1-2 menit dan berdiri menunggu pemain datang. Tapi mereka masih duduk ngobrol seperti tidak berniat ke lapangan. Mereka terus saja mengobrol sambil mengikat tali sepatu,” ucap Shin Tae Yong.
Nah untuk mengatasi hal ini selain STY berusaha merubahnya, pasti pemain-pemain naturalisasi akan memberikan contoh nyata bagaiman mereka bersikap sebagai pemain professional baik dalam kehidupan sehari-hari terutama saat berlatih dan bertanding di lapangan.
Contoh nyata pasti lebih mudah diserap. Kelemahan berikut adalah soal pola makan. Untuk mengatasi ini STY dan seluruh staf harus kerja keras mengaturnya. Sementara pemain pro yang sudah berpengalaman mengikuti kompetisi di Eropa atau negara-negara yang maju sepakbolanya sudah menjadikan pola makan sebagai kebiasaan mutlak.
Mungkin apa yang diperlihatkan oleh Marco Motta pemain asal Juventus yang memperkuat Persija Jakarta bisa menjadi contoh nyata tentang pola makan.
Ia mengatakan konsumsi makanan dirinya yang merupakan pesepak bola profesional harus dijaga, tidak boleh asal sembarangan karena memberi pengaruh signifikan.
Hal itu diungkapkan Marco Motta dalam wawancara yang videonya diunggah pada akun YouTube resmi Persija Jakarta beberapa waktu yang lalu.
Sejak berada di Indonesia, Motta mengaku tak banyak mencicipi masakan Indonesia, terutama makanan yang disajikan dengan cara digoreng dan salah satunya nasi goreng.
Bagi Motta, nasi goreng termasuk makanan berat sehingga ia tak boleh asal mengonsumsinya meskipun menjadi makanan favorit sejuta umat di Indonesia.

About Redaksi 2

Check Also

5th South East Asia Bridge Federation Cup & 38th ABCC di Bangkok 18-23 Desember 2023

Pengumuman menggembirakan datang dari The Contract Bridge League of Thailand yang memberitahukan mereka akan menggelar …