web analytics

Liando Katakan, Perlu Inovasi KPU Terkait Covid-19

biro2sl.desember 1.2020

Dr. FERRY LIANDO

MANADO, sulutlink.com – Mendekati hari H pilkada jumlah masyarakat golput dikhawatirkan makin meningkat pasca pandemi. Golput juga bisa merupakan fenomena klasik,  karena pemilih merasa  seolah tidak wajib datang ke TPS karena covid-19. Banyak alasan bisa bermunculan dikalangan  masyarakat, khususnya pemilihan di Sulawesi Utara.

Diminta tanggapan media sulutlink.com  via WA, Senin (30/11/2020) malam, terkait ‘Golput’ Dosen Kepemiluan Universitas Sam Ratulangi, Dr. Ferry Liando menekankan,  Perlu inovasi bagi KPU dalam mensosialisasikan Pilkada Aman dari Covid. Sosialisasi dimaksud, memperjelas  mekanismenya, pembatasan jumlah pemilih, model antrian, tata cara mencoblos dan pemberian tinta pada jari. Semua prosedur itu, yakin harus bebas dari covid,” papar Liando.

“Tentu penting bagi KPU untuk meyakinkan publik bahwa pencoblosan itu harus benar-benar AMAN”

Lanjut Liando,  KPU perlu  kerja keras guna meyakinkan publik bahwa suasana TPS itu AMAN dari covid. Hanya dengan cara itu maka masyarakat akan datang ke TPS. 

KPU, harus giat bersosialisasi untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat agar dalam memilih di TPS pada 9 Desember masyarakat tetap dijamin keselamatannya  dari penularan covid,” tandas Liando

Jika masyarakat kurang informasi maka pergerakan potensi golput bisa meningkat. Walaupun fenomena golput tak hanya disebabkan karena kekuatiran masyarakat untuk datang ke TPS untuk memilih.

Golput itu sebuah fenomena yang sering terjadi baik dalam setiap pemilu atau pilkada.

Ciri-ciri Golput bisa terjadi karena beberapa hal;

Pertama,  Ketidak percayaan terhadap calon-calon  yang sedang berkompetisi. Banyak  pemilih yang trauma karena banyak janji-janji politik yang tidak dibuktikan ketika terpilih. Ketidak percayaan itu menyebabkan mereka enggan untuk datang ke TPS untuk memilih.

Kedua,  Karena kondisi sebagian masyarakat yang kini  hidup dalam kondisi zona nyaman. Artinya memilih atau tidak memilih, baginya tak akan mempengaruhi nasib.

Ketiga, Golput terjadi karena sebagian masyarakat lebih tertarik untuk bekerja ketimbang untuk datang memilih. Pilkada tahun ini kemungkinan potensi masyarkat untuk tidak memilih bisa saja meningkat.  Alasan untuk tidak memilih karena takut tertular covid itu sangat manusiawi.

“Kemungkinan masyarakat yang akan datang memilih ke TPS pada tanggal 9 adalah;

Pertama, Masyarakat yang berhasil diperdaya oleh calon dengan money politics. Jadi uang suap itu bisa menjadi daya dorong masyarakat untuk datang memilih.

Kedua, Masyarakat yang diancam atau terintimidasi. Mereka sebagian besar adalah ASN dan keluarganya atau pemimpin agama dan keluarganya. Jadi mereka yang memilih datang ke TPS karena takut kehilangan  jabatan atau takut tak mendapat fasilitas dari pemerintah.

Ketiga, Masyarkat yang dipengaruhi politik aliran.

Guna menangkal masyarakat golput meningkat, kuncinya KPU yakinkan publik bahwa suasana TPS itu AMAN dari covid ,” pungkas Ferry sapaan akrab.







































About DeProS Red

Check Also

Gubernur Olly Dondokambey Ikuti Arahan Presiden Jokowi Secara Virtual

Manado, Sulutlink.com – Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey Mengikuti Penyampaian Arahan Presiden Joko Widodo …