web analytics

LINIMASA PERADABAN TUHAN

Oleh : Phill Sulu (Wartawan Senior Sulut)

Tomohon, sulutlink.com
Ketika kami masih lugu, belum punya ilmu, juga belum mengenal Engkau. Tapi Kau ciptakan kami istimewa, beda dgn makhluk lain. Hewan hanya punya naluri. . Tumbuhan, hidup dalam kendali hukum alam.Tapi kami manusia dibekali naluri, akal budi juga bakat. Dalam lingkup hukum alam ini, kami pertahankan hidup degan naluri. Awalnya kami cuma butuh pangan. Lalu Kemudian kami ingin pakai sandang juga papan. Tapi semua itu terasa belum cukup. Muncul banyak keinginan dan kebutuhan lain. Akal budi kami mulai berfungsi. Kognisi juga ikut bersemi Kami ingin hidup lebih baik. Kesadaran lalu muncul. Ternyata kami ini bukan hanya gumpalan daging bernafas. Ada jiwa dan roh dalam raga kami. Seribu tanya datang bermunculan. Apa sebenarnya hakekat hidup ini Dari mana kami ada dan mau kemana?. Kemudian wahyu turun menjawab kami
Lewat.orang orang kudus pilihanMu
Kami jumpa dan kenal Engkau. Sang Maha Pencipta yang patut dipuja dan disembah. SabdaMu jadi pedoman hidup kami..Dengan itu akal budi dan talenta anugerahMu kami kembangkan. Niat dan keinginan terus berpacu. Ingin tau makin jauh berlari Lalu jumpa dengan apa yg disebut filsafat. Kata orang bijak, itu induk ilmu pengetahuan.
Zaman terus bergulir. Linimasa peradaban makin terentang. Dari zaman batu hingga zaman millinium. Engkau izinkan kami gunakan akal budi dan kehendak bebas.
Tanpa sadar kami makin jauh dariMu.
Kemajuan Iptek sesatkan pandangan hidup kami. Kecanggihan teknologi membuat kami sombong
SabdaMu tak lagi jadi pedoman hidup. Tinggal jadi semacam barang antik atau komoditi bisnis. Kemewahan dan kenikmatan dunia membuat kami mabuk
Engkau tinggal nama yg dikarantina di tempat ritual.
Bumi yg dititipkan untuk dirawat, babak belur digarap memuaskan syahwat keserakahan kami.
Kami anggap Engkau tidur atau telah tiada
Namun Engkau tetap Maha bijaksana. Tak perlu Kau utus satu legiun bala tentera Sorgawi untuk menghardik kami.
Cukup Kau izinkan sebentuk virus yg tak kasat mata. Mengembara di permukaan planet bumi ini.
Bumi dirawat dan dipulihkan. Konsekuensinya, kami penghuni bumi yg lupa diri, harus terkapar tak berdaya . Semua diam membisu. Disana sini terdengar rintihan. Tuhan ampuni kami. Hentikan pandemi yg bernama Corona ini. ***

About Redaksi Sulutlink

Check Also

Berty Kapojos Sosialisasi Peraturan Daerah Provinsi Sulut Tahun 2022

Minut, Sulutlink.com – Anggota DPRD Provinsi Sulut Berty Kapojos, S.Sos, gelar kegiatan Sosialisasi Perda (Sosper) …