web analytics

Mahmud: Kanker Bukan Vonis Mati!

Kanker adalah monster penyakit yang ditakuti banyak orang karena penyakit ini masih pada deretan angka kematian yang tertinggi. Kankerpun sukar dideteksi karena gejala stadium awal tidak nampak. Juga, kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kanker masih minim.

mahmudKebanyakan penderita baru menyadari ketika sudah pada stadium akhir sehingga peluang untuk sembuh sangat rendah. Menurut data, hanya 1 persen orang yang sembuh bila penyakit kanker sudah pada stadium IV, sementara stadium IIIB hanya 5 persen yang berhasil disembuhkan.

Biaya pemeriksaan dan pengobatan kerap menjadi alasan untuk memeriksa atau mengobatinya. Seperti kisah Mahmud Lagali (73), warga Kabupaten Enrekang yang dilansir dari www.bpjs-kesehatan.go.id.

Mahmud adalah seorang pensiunan tak menyangka harus bergelut dengan kanker prostat.

 

“Setahun yang lalu, saya sering merasa nyeri saat buang air kecil. Awalnya saya kira cuma gara-gara kurang minum atau gara-gara sering menahan ke toilet. Nggak ada gejala yang aneh-aneh, akhirnya saya diamkan saja, paling minum obat warung,” cerita Mahmud.

Kian hari, sakit yang dirasanya makin menjadi. Ia pun lebih memilih berdiam diri di rumah daripada melakukan rutinitas bertani dan berkebun yang biasa ia lakukan sehari-hari. Meski demikian, Mahmud tetap enggan pergi ke dokter karena khawatir akan biaya.

“Dimana mau ambil uang, pikir saya waktu itu. Gaji saya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berapa banyak uang yang harus saya keluarkan kalau ternyata harus dirawat,” tuturnya.

Atas dorongan keluarga dan para tetangga, berbekal surat rujukan puskesmas, akhirnya Mahmud memutuskan pergi ke rumah sakit. Usai melewati berbagai pemeriksaan, Mahmud diketahui mengidap kanker prostat. Dokter pun menyarankan agar Mahmud segera menjalani kemoterapi. Menurutnya, biaya sekali kemoterapi bisa mencapai sekitar 12,5 juta rupiah. Dalam setahun, ia sudah menjalani lebih kurang 4 kali kemoterapi. Ia pun menampik anggapan jika peserta JKN-KIS selalu dipersulit saat berobat ke faskes.

“Saya nggak setuju kalau orang bilang pelayanan pasien BPJS Kesehatan jelek, ditunda-tunda, dan sebagainya. Kalau saya bilang, itu tergantung oknum di rumah sakitnya. Kalau ngantri, wajar. Kita pengertian juga sama pasien lain, sama-sama butuh berobat, sabar saja,” ujarnya.

Di akhir ceritanya, Mahmud mengajak orang-orang yang mengidap kanker untuk tidak menyerah di tengah jalan. Baginya, kanker bukanlah penyakit yang tidak ada obatnya. “Saat itu dokter menguatkan saya, selalu ada obat di setiap penyakit, termasuk kanker, katanya. Diyakinkan begitu, saya pun berpikir, kanker bukan vonis mati. Saya sudah pindah-pindah dari satu RS ke RS lain. Mulai dari RS Massenrempulu, RS Wahidin, RS Faisal. Beruntung semuanya tidak bayar sepeser pun,” pungkasnya.

About Redaksi Sulutlink

Check Also

Bupati Minahasa Tenggara James Sumendap SH.MH Berikan Bonus Terhadap Pesrta Cabor Mitra

Mitra – sulutlink.com – Raih prestasi gemilang para atlet Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) dalam Pekan …