web analytics

Mengembangkan Wisata Religi di Tondano Contoh Nyata Bhinneka Tunggal Ika

Oleh : Bert Toar Polii

(Sc:Facebook)


Sulutlink.com
– Kota Tondano adalah tempat yang pas untuk mengembangkan wisata religi karena disana walaupun penduduknya mayoritas beragama Kristen Protestan tapi pembangaunan rumah ibadah agama lain juga tidak menjadi masalah. Dikutip dari Wikipedia, rumah ibadah yang ada di kota ini yakni terdapat 136 bangunan gereja Protestan, 7 bangunan masjid, 6 bangunan gereja Katolik, dan 2 bangunan Pura ditambah 1 bangunan sinagoge.
Wisata religi dimaknai sebagai kegiatan wisata ke tempat yang memiliki makna khusus bagi umat beragama tertentu selama ini memang sudah menjadi trend.
Selama ini wisata religi yang di kenal di Sulawesi Utara ada 5 namun semuanya diluar Tondano. Ada Bukit Doa Mahawu, Bukit Kasih Kanonang, Vihara Budhayana dan Pagoda Ekayana, Monumen Tuhan Yesus Memberkati dan Bukit Tujuh Kaki Dian.
Padahal kalau dirunut, Tondano memiliki objek wisata religi yang lebih bervariasi sehingga bisa menunjukan kepada dunia tentang toleransi beragama yang sangat tinggi dari masyarakatnya.
Ini tentu saja menjadi contoh nyata dari Bhinneka Tunggal Ika atau berbeda tapi tetap satu.
Apa saja objek wisata yang bisa dikembangkan jadi wisata religi di Tondano.
Pertama adalah Gereja Sentrum yang terletak di tengah kota Tondano. Gereja ini mempunyai sejarah yang panjang, Pada tahun 1831, Tondano di pilih menjadi “pusat” stasiun agama Protestan. Pada waktu itu Tondano dihuni sekitar 4.000 jiwa. Riedel menempati posnya di Tondano pada tanggal 14 Oktober 1831. Dia dilantik oleh Ds. G.J Hellendoorn dihadapan kedua walak dan masyarakat setempat. Pada tahun yang sama di dirikan gerja kayu kecil dan kemudian pada tahun 1937 diganti dengan yang baru dan lebih besar. Gereja baru ini dapat menampung sekitar 400 an orang.
Pada tahun 1854 terjadi gempa bumi yang hebat dan meluluh lantakan gereja di Tondano. Masyarakat terpaksa melakukan ibadah di gereja darurat hingga tahun 1867.
Rencana pembuatan gereja baru kemudian disusun. Pekarangan sekolah MULO (sekarang SMP) di siapkan. Tetapi, pada tahun 1864 halaman tersebut digunakan untuk “Sekolah anak lelaki kepala-kepala bumiputra (School voor Zonen van Inlandsche Hoofden) atau juga disebut Sekolah Radja. Gedung sekolah ini dilengkapi dengan perumahan guru.

Dengan gagalnya rencana ini maka jemaat Tondano mengambil langkah dengan “biaya sendiri” (perlu menjadi catatan tersendiri) untuk membeli se bidang tanah. Atas pengawasan dari Zendeling Hessel Rooker maka pembangunan gereja di sebelah dari lokasi yang direncanakan sebelumnya. Pembangunan gereja selesai pada bulan Oktober 1884 atau sekitar 20 tahun. Suatu hasil jerih payah melalui pengorbanan dan kerja keras serta ditopang dengan doa terwujutlah rumah ibadah yang layak.
Masjid Agung Al-Falah Kyai Modjo, Masjid pengikut Kyai Mojo didirikan pada tahun 1830 oleh Kyai Muslim Muhammad Halifah yang bergelar Kyai Mojo bersama 63 orang pengikutnya. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1833 mimbar masjid tersebut dibangun. Kyai Mojo adalah penyebar agama islam pertama di Minahasa.
“Kyai Mojo sering berkunjung pada pendeta zendeling Riedel [J.G. Riedel] dan berbicara banyak dengannya. Ia menerima darinya sebuah Injil,” tulis Pendeta Nicolaas Graafland dalam Minahasa: Negeri, Rakyat, dan Budayanya (1991: 458-459).

Sinagoge di Tondano
Sinagoge di Tondano itu menjadi satu-satunya rumah ibadah penganut Yudaisme yang eksis di Indonesia. Sebelumnya, sinagoge lain pernah ada di Jalan Garuda, Kota Manado, namun hancur dibom Jepang tahun 1940-an. Satu lagi juga pernah ada di Surabaya.
Pura Danau Mandara
Pura ini bangun persis pinggir sebelah kiri di ruas jalan dari Desa Kiniar,Tondano ke arah Desa Touliang oki,di bangun di atas Tanah dengan luas sekitar 2 Hektaran.
Pura Danu Mandara sendiri memiliki arti Pura di atas Danau Posisi Pura tersebut sangat strategis dengan di kelilingi hamparan persawahan yang luas di barengi dengan pemandangan Exsotisnya Danau Tondano.
Memang Kota Tondano pantas menjadi lambing kerukunan serta keberagaman kepercayaan karena sudah terpelihara sejak dulu.

About Redaksi 2

Check Also

Ganesha Bridge Gelar Turnamen Bridge Kedua

Oleh : Bert Toar Polii Sulutlink.com – Setelah suskses dengan penyelenggaraan “Ganesha Bridge Online Tournament” …

Leave a Reply