web analytics

Musim Kemarau 2019 di Minahasa

Catatan Musim Kemarau : oleh Joppie Worek

Musim kemarau ekstrime sudah memasuki bulan keempat. Diperkirakan kondisi ini akan berlanjut hingga November 2019. Sulawesi Utara sebagai daerah pertanian tentu telah dan akan menerima dampak kemarau ekstrime ini. Gagal panen, hilangnya musim tanam padi dan palawija adalah akibat yang langsung dirasakan masyarakat petani. Nilai tukar petani tentu akan ikut merosot tajam, beban produksi juga akan bertambah, kelangkaan bibit dan benih juga akan jadi beban. Kisah susah petani akan berderet panjang.

Perekonomian rakyat kebanyakan tentu juga akan menjadi beban bersama. Saat ini saja harga-harga kebutuhan sehari-hari seperti sayur-mayur, rempah-rempah, beras, telur dll dilaporkan naik.

Stabilitas harga kebutuhan pokok harus diusahakan tetap terjaga. Kelangkaan hasil pertanian tentu akan ikut mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah antisipasi menghadapi gejolak harga kebutuhan pokok. “Kemiskinan temporer” rakyat dalam beberapa bulan ke depan hendaknya dihadapi dengan ketersediaan, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah stabilitas harga kebutuhan pokok.

Kemiskinan temporer yang sangat mungkin terjadi dalam beberapa bulan ini juga dapat menaikan angka kriminalitas. Sebab ini soal perut.

Kita bisa berharap, daya tahan dan daya juang masyarakat petani menghadapi situasi sulit ini akan meningkat. Hidup lebih efisien, penghematan, dan tetap memiliki semangat produktif dapat mengurangi beban.

Dari beberapa laporan masyarakat petani yang mengalami gagal panen dan hilangnya musim tanam di beberapa desa, mulai mencari alternatif usaha. “Banya yang so cari kerja jadi tukang, baojek, pokoknya cari kerja apa saja yang penting dapa doi” kata seorang petani asal Tondegesan, Kawangkoan.

Dari Modoinding, Tomohon, Tompaso, Langowan sentra produksi palawija juga dilaporkan mengalami gagal panen. “Kami sudah berusaha cari air untuk menghindari gagal panen, tetapi sumber air makin menepis. Biasanya juga tidak sedikit,” keluh seorang petani sayur di Tomohon.

Dari Modoinding juga dilaporkan, produksi dipastikan merosot lebih 50 % dari produksi normal. “Hanya satu harapan, semoga segera turun hujan,” kata seorang petani sayur Modoinding.

Petani lain dari Motoling bertutur, “Harapan kami tinggal sisa hasil panen cengkeh dan kelapa. Tapi harga cengkeh dan kopra juga sangat rendah,” keluhnya.

Catatan kecil ini semoga menjadi peringatan bagi semua pihak untuk siap sedia menghadapi kesulitan. Paling tidak semua tetap berdaya tahan dan berdaya juang.

Salam dan hormat saya buat semua petani, Joppie Worek.

About Redaksi Sulutlink

Check Also

Meidy Tinangon Jadi Nara Sumber Pada Rapat Fasilitasi dan Pembinaan Penguatan Ideologi dan Wawasan Kebangsaan

  ” Demokrasi dan Wawasan Kebangsaan: Pemilu 2024 sebagai Sarana Integrasi Bangsa” Januari 27.2023.admin.karel tangka …