web analytics

Perayaan Nataru Alumni SMANTO 170.1 Tondano Beda Dengan Biasanya

Oleh : Bert Toar Polii

Sebagai puncak acara Tondano Fair yang digelar Syalira Family & Mareng Um Banua Alumni Smanto 170.1 maka pada tanggal 31 Desember 2019 akan digelar Perayaan Natal & Tahun Baru yang dimeriahkan dengan penampilan Band Indie lokal dan artis ibukota juga pesta kembang api.
Membaca judul acara memang terasa sedikit diluar kebiasaan di Minahasa. Sebab umumnya bukan perayaan natal tapi ibadah natal.
Ketua Alumni SMANTO 170.1 Irjen Pol Carlo Tewu secara rinci menguraikan mengapa ia menggunakan perayaan Natal bukan ibadah Natal.
Menurut Carlo Tewu, karena acaranya perayaan Natal maka pesan Natal bias disampaikan oleh siapa saja yang bersedia termasuk para tokoh agama.


Ini merupakan sifat asli orang Minahasa yang sangat menjunjung tinggi keragaman sehingga sangat kental dengan toleransi yang tinggi pungkasnya.
Ia juga memberikan contoh bagaimana rombongan Kiyai Madja yang diterima dengan senang hati dan bahkan tumbuh berkembang berdampingan dengan mayoritas penduduk asli yang beragama Kristen.
Malah kalau kita amati saat ini, justru turunan Kyai Madja yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan “orang kampong Jawa” yang mampu melestarikan Bahasa Tondano bahasa penduduk asli walaupun memang sudah bercampur dengan sedikit kosa kata bahasa Jawa bahasa asli mereka.
Dengan menggali kearifan local yang sudah tertanam lama di hati orang Minahasa maka kita bias memberikan contoh kepada daerah-daerah lain yang saat ini baru memulai.
Mari kita lihat dampak positif Indonesia yang terdiri dari beragam suku, bangsa, dan agama :
• melatih kita untuk bisa saling menghormati
• melatih untuk menghargai perbedaan dan rasa toleransi
• kita dapat mencontoh kebiasaan baik yang sering dilakukan oleh suatu suku, agama, dan ras
• memotivasi anak bangsa untuk tetap menjaga persatuan di tengah perbedaan
• membuktikan kepada dunia bahwa indonesia merupakan negara yang kaya dan beragam
Tapi tentu saja kita harus menghindari dampak negative yang mungkin muncul, seperti :
• bagi beberapa kalangan perbedaan menimbulkan perpecahan
• timbulnya kekerasan akibat kurangnya rasa toleransi dan kurangnya menghargai perbedaan
• timbul persaingan
• munculnya rasisme (membeda-bedakan antar golongan)
• timbulnya permusuhan antar suku karena perbedaan atau pertentangan budaya
• adanya tindak anarkis dari oknum fanatik yang mengatas namakan suku, ras, maupun agama
• munculnya egoisme
• timbulnya individualisme.
Semoga apa yang dilakukan oleh Alumni Smanto 170.1 Tondano bias memberi dampak positif buat kita bersama untuk Indonesia yang lebih baik kedepan.

About Redaksi Sulutlink

Check Also

Tuuk: Dana DAK di Dikda Sulut Sarat Pilih Kasih, Kadis Punuh Diminta Bertanggung Jawab

Manado, Sulutlink.com – Jems Tuuk mengatakan, Pengelolaan Dana Alokasi Khusus (DAK) di Dinas Pendidikan Provinsi …