web analytics

Praper, Kuasa Hukum Wakil Dekan II FIB Unsrat, Frangky Weku : Ini Tidak Menyerang Kehormatan dan Nama Baik

Airmadidi, Sulutlink.com – Sidang Praperadilan (praper) dengan pemohon DR MLMP alias Mariam tengah bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Manado, pemohon yang adalah Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sam Ratulangi Manado, ini, disangkakan tindak pidana pasal 311 KUHPidana dan UU No II tahun 2008 tentang ITE.

Kuasa Hukum Pemohon, DR MLMP, Frangky Weku SH

Kuasa hukum Pemohon, Frangky Weku SH, saat diwawancarai Sulutlink.com, menjelaskan penetapan tersangka yang dilakukan Reskrim kota Manado telah dilakukan secara melawan hukum, tidak berdasarkan atas dua alat bukti yang sah.

“Saya sebagai kuasa hukum dihadapan penyidik menyatakan keberatan mengenai bukti yang diajukan , karena bukti tidak benar alias palsu, disangkakan pasal 311 KUHPidana tentang menyerang kehormatan seseorang, penghinaan. Nah kemudian oleh penyidik meningkatkan sampai UU ITE. Kami temukan jika termohon yang melakukan screenshoot, maka siapa yang membuat dan mentransmisikan, tentunya dia yang layak diperiksa oleh polisis,” beber Weku.

Lanjut Weku, dalam keterangan dua Ahli Unsrat yang diajukan dalam sidang, Kamis (01/04/2021), Ahli Hukum dan Bahasa, Michael Barama (Dosen Fakultas Hukum), Stevanie Kumenang (Dosen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya).

Suasana Persidangan

Ahli Hukum menerangkan, terkait konten yang dibuat oleh pemohon bukti p-8, Apakah fitnah secara lisan, atau tertulis. Maksud surat yang menjadi dasar, apakah mengandung menyerang kehormatan atau nama baik, menurunkan derajat atau membuat orang merasa malu.

“Konten itu tidak menyerang kehormatan dan nama baik, atas
pengkalimatan secara tertulis, “Dok sudah berulang kali dimuat”.
Dalam konten hanya dua orang tahu, asesor dan yang di ases (penilai dan yang dinilai).
Bahwa fitnah, menuduhkan sesuatu supaya diketahui secara umum, semua unsur harus dibuktikan sehingga penetapan menjadi akurat,” terang Ahli Hukum.

Lebih lanjut, Kuasa Hukum membeberkan, pemohon sebagai Asesor diberikan tugas oleh dekan untuk Ases seorang dosen yang bernama ST (Termohon), pada tahun semester ganjil 2018-2019, ketika dimintakan untuk memasukkan LKD, ada beberapa hal yang perlu dikoreksi. Ternyata dokumen yang masuk masih menggunakan logo lambang fakultas sastra , sementara lambang tersebut sudah tidak digunakan lagi, karena sudah ada lambang baru , FIB. Dan asesor dalam penilaian akhirnya, berkas dalam bahasa Jepang yang dimasukkan termohon , dinilai ‘T’ atau tidak lulus.

“Pengadilan berkeadilan, sehingga kami mohonkan bisa diterima, apa yang disangkakan terhadap klien kami itu tidak benar. Karena jika oleh setiap dosen yang menilai muridnya dan memberi nilai tidak lulus, harusnya murid mengkoreksi dan bukannya menggugat. Ini keputusan lembaga,marilah pada administrasi negara atau institusi sendiri, lewat senat atau rektor dan bukan seperti ini,” tutup Weku.

Diketahui, sebagaimana agenda ,sidang akan dilanjutkan pada Senin (5/4/2021), hari ini. Dengan pihak Termohon mengajukan saksi.

(Serly Tasiam)

About Redaksi 2

Check Also

Andrei Angouw Walikota Manado Genjot Vaksinasi Dosis Ke-2

Sulutlink – Wali Kota Andrei Angouw mengatakan, percepatan vaksinasi Covid-19 harus terus digalakkan apalagi Kota …