web analytics

Saatnya Destinasi Wisata yang Komprehensif

Karya Tulis: Fary SJ Oroh

BUNAKEN. Itu yang ada di benak banyak orang ketika menyebut destinasi wisata di Sulawesi Utara (Sulut). Ya, selama bertahun-tahun, Bunaken, atau tepatnya Taman Nasional Laut Bunaken telah menjadi primadona pariwisata Sulut. Nama Bunaken telah melegenda dan menjadi ikon pariwisata Sulut, baik di tingkat nasional maupun mancanegara.

Realitanya, Bunaken bukan satu-satunya destinasi wisata bawah laut di Sulut. Ada banyak spot bawah laut yang tak kalah cantik, seperti yang bisa ditemukan di sekitar Pulau Lihaga Minahasa Utara (Minut), seputaran Manado Tua Manado, Pulau Lembeh Bitung, Tumbak dan Semenanjung Totok di Minahasa Tenggara (Mitra), Pantai Modisi di Bolsel dan banyak lagi.

Sulut juga kaya dengan pulau eksotis nan cantik yang bisa dijadikan tujuan wisata, seperti Pulau Intata dan Miangas di Talaud, Gangga di Minut, Molosing Bolsel serta pulau Makalehi dan Mahoro di Sitaro.

Untuk wisata berbasis budaya dan adat ada Tulude di komunitas Nusa Utara, Batu Buaya Manado, Watu Pinabetengan Minahasa, Festival Mane’e di Talaud, Waruga Nimawanua di Woloan dan Kolongan Tomohon, Taman Purbakala Waruga Sawangan Minut, Batu Sumanti Manado, dan banyak lagi.

Dan tentu saja ada Wisata Kuliner, Kerajinan Rakyat, Religi, Sejarah, Air Terjun, Taman Margasatwa, Gunung/Bukit, Agrowisata, Danau/Kolam, Pantai, serta Minat Khusus yang saking banyaknya tak bisa diulas satu per satu dalam tulisan ini.

Destinasi Komprehensif

Dengan banyaknya potensi pariwisata yang bisa digali dan dikembangkan di Sulut, lalu apa yang seharusnya dilakukan? Salah satu alternatif, adalah mengembangkan destinasi pariwisata yang komprehensif. Setidaknya ini yang digagas Lurah Koya Kecamatan Tondano Selatan Minahasa, Herke Mokolensang SIP.

“Konsep destinasi wisata yang komprehensif telah saya presentasikan dalam Lomba Kelurahan se-Sulut belum lama ini,” kata Herke di Tondano. Dalam lomba itu, Kelurahan Koya terpilih menjadi terbaik kedua tingkat Provinsi Sulut, menyisihkan 376 kelurahan. Sebelumnya Koya menjadi pemenang pertama di tingkat Kabupaten Minahasa dan Kecamatan Tondano.
Konsep Destinasi Komprehensif, menurut Herke adalah memadukan dan mengeksplorasi semua potensi wisata yang ada di sebuah kawasan.

“Jadi misalnya ada wisatawan yang berkunjung ke Koya, begitu tiba mereka disambut tarian Cakalele. Setelah itu wisatawan menaiki bendi (kendaraan tradisional Minahasa yang terancam punah, pen.) dan diarak ke sebuah lapangan di ujung kampung. Di lapangan yang menjadi semacam ‘amphitheater’ ini para wisatawan disuguhi berbagai tarian khas Minahasa seperti Maengket dan Katrili,” jelas Herke.

Kemudian, para wisatawan yang berminat, diajak meninjau lokasi wisata ekstrim yang disebut Pasolongan, berupa gua alam sedalam sekitar 60 meter. Di dasar gua ada semacam kamar berjumlah 24.

“Menurut penuturan sejumlah tua-tua kampung, gua Pasolongan ini dulu menjadi tempat persembunyian warga Koya dan sekitarnya yang enggan mengikuti romusha (kerja paksa, pen.) oleh penjajah Jepang,” kata Herke.

Sesudah mengkuti Wisata Ekstrim Pasolongan, wisatawan diajak untuk mandi dan menyelam di kolam alam Uluna, yang memiliki kedalaman sekitar tujuh meter.

“Dasar kolam Uluna itu tanah lilin jadi kolamnya tidak becek atau kotor,” papar Herke. Uluna sendiri, yang debit airnya sempat menurun setelah menjadi sumber air minum untuk PDAM Minahasa, kini menjadi lokasi alternatif bagi mereka yang ingin merasakan sensasi menyelam di kolam yang jernih.

Bagi wisatawan yang tertarik mandi air panas, di Koya tersedia sejumlah titik pemandian air panas alami, baik berupa kolam maupun bak mandi.

Setelah mandi dan menyelam, wisatawan disuguhi kopi khas Koya, yang dipanen di perkebunan Kopi peninggalan Belanda. Kemudian, wisatawan diajak mengunjungi lahan yang ditanami kangkung. Wisatawan yang berminat bisa ikut memetik kangkung.

“Koya itu produsen kangkung. Apa yang selama ini dikenal di Manado sebagai ‘kangkung Tondano’ itu sebenarnya berasal dari Koya,” terang Herke.

Kangkung yang dipetik wisatawan bisa dibawa pulang. Atau bisa langsung dimasak. Wisatawan kemudian diajak menikmati lezatnya wisata kuliner khas Minahasa.

“Jadi Destinasi Wisata Komprehensif itu memadukan semua potensi wisata, seperti tarian, keindahan dan keunikan alam, tanaman hingga kuliner. Sehingga wisatawan tak hanya disuguhi satu item wisata, namun beragam item, yang dikemas secara khusus dan apik,” kata Herke.

Kendala utama

Namun, untuk mengubah sebuah kawasan menjadi destinasi wisata yang komprehensif itu tidak mudah. Kendala utama, menurut Herke adalah dana.

“Dana itu menjadi kendala klasik. Tanpa dana kita akan sulit memulai. Mar kalu ada doi, samua boleh mo beking,” katanya. Dana, diperlukan antara lain untuk melatih anak muda Koya menjadi pemandu wisata atau guide, juga honorarium untuk kusir bendi serta penari dan juru masak. Sementara untuk Wisata Ekstrim Pasolongan, yang diperlukan adalah alat bantu oksigen serta penerangan. Juga untuk menyewa sepeda motor yang membawa wisatawan ke lokasi yang berada di perkebunan.

“Kemudian untuk hal-hal yang sudah menjadi kebutuhan standar seperti wifi gratis,” katanya.

Pihaknya juga akan melakukan pendekatan ke sejumlah penduduk agar mau menyiapkan satu kamar khusus yang memiliki standar penginapan yang layak. “Jadi jika ada wisatawan yang ingin menginap, mereka bisa menginap di rumah penduduk yang punya kamar khusus yang memenuhi standar hotel. Jadi wisatawan tak perlu kembali ke Manado untuk menginap,” kata Herke yang kini sedang mengupayakan agar Koya bisa ditetapkan Pemerintah Kabupaten Minahasa sebagai ‘kelurahan Pariwisata’.

Update database

Terkait pengembangan pariwisata Sulut ke depan, menurut Herke, yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengupdate database titik pariwisata Sulut secara berkala. Juga perlu ada semacam buku panduan yang secara lengkap mengupas dan membahas segala pernik terkait pariwisata Sulut.

“Sekarang di Minahasa, juga Tomohon banyak obyek wisata baru, yang ramai dikunjungi masyarakat. Pemerintah, baik lingkup kabupaten/kota maupun provinsi seharusnya lebih proaktif. Jadi harus ada pemantauan dan update database yang dilakukan secara berkala,” kata Herke.

Juga, perlu ada publikasi yang lengkap dan memadai menyangkut obyek wisata tertentu. “Jadi misalnya ada wisatawan yang ingin ke Koya, harus ada panduan. Misalnya mereka menginap di Manado, bagaimana mereka bisa ke Koya. Untuk angkutan umum mereka harus kemana, berapa biaya untuk bus, misalnya. Kemudian apakah ada penginapan di sekitar tujuan, bagaimana mereka bisa ke tempat wisata lain, dan seterusnya. Ini penting, mengingat tak semua wisatawan itu didampingi pemandu,” papar Herke.

“Jadi pemerintah bagusnya beking buku khusus tentang obyek pariwisata. Pemerintah bisa bekerjasama dengan penulis lokal di Sulut. Misalnya angko lei boleh to batulis buku tentang pariwisata Sulut?” Herke bertanya setengah bercanda.

Yah, demi kemajuan pariwisata Sulut, seharusnya tak ada yang sulit untuk dilakukan bukan? Hehehe

Penulis adalah jurnalis dan pengarang sejumlah buku baik fiksi maupun non fiksi, yang dipasarkan dalam versi cetak maupun digital.

About Redaksi Sulutlink

Check Also

AHY LANTIK 15 DPC PARTAI DEMOKRAT SE SULUT, ANISA LANTIK SRIKANDI SEYLA KUDATI

  November  25. 2022 admin: karel supit Manado. Sulutlink.com – Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat …