web analytics

Sompie Gelar Dialog Pencegahan Penyebaran Terorisme dan Paham Radikalisme

FB_IMG_1507259931722MANADO,SULUTLINK- Guna mencegah penyebaran terorisme dan paham Radikalisme, (6/10/2017) Dirjen Imigrasi Ronnie Sompie mengelar dialog publik bertajuk Mapalus pencegahan penyebaran terorisme dan paham radikalisme di Sulawesi Utara yang dipusatkan di kantor Gubernur Sulut.

“Kegiatan ini merupakan kerjasama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dengan Dewan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Kawanua,” ucap Ketua (K3) Ronnie Sompie.

Menuru pria berbintang dua ini acara ini sendiri merupakan sebuah telaah kondisi global, nasional dan regional, atas gejala Terrorisme yang bukan hanya terjadi di luar negeri, tetapi juga di tingkat regional Asia Tenggara. Terutama menyusul Bom Kampung Melayu dan termasuk Penguasaan MARAWI, Philipina oleh kelompok teroris ISIS.

“Melihat semakin dekat dan semakin terindikasinya kelompok terroris dan paham radikal di Provinsi Sulawesi Utara, maka dirancanglah kegiatan ini.” ucapnya

Lebih jauh katanya, atas terselenggaranya kegiatan ini, maka ada beberapa hal yang perlu kami tegaskan yakni, aksi terrorisme dan aksi penyebaran paham Radikalisme merupakan gejala global yang juga menggejala di Indonesia, dan bukan tidak mungkin Sulawesi Utara. Dan persoalan aksi terror dan paham radikal, sebetulnya tidak terutama terkait dengan agama tertentu, tetapi belakangan semakin dikaitkan dengan agama tertentu di Indonesia, Islam.”‘tuturnya

Oleh karena itu katanya, bagi kami perlu di perdebatkan dan diklarifikasi karena bisa membelah kebersamaan sebagai satu Bangsa, Bangsa Indonesia dalam kerangka NKRI.

“Sekilas pemberitaan soal terorisme dan paham radikalisme bagai melekat dengan agama mayoritas di Indonesia. Hal yang mesti dipahami sebagai satu hal yang tidak benar, karena agama manapun mengajarkan kebaikan, meski memang sering dipakai untuk alat pembenar atas tindak kejahatan sekalipun. Maka, hal ini perlu sangat dipahami, agar kebersamaan sebagai satu Bangsa, tidaklah hancur karena persoalan yang tidak diletakkan secara proporsional.”ungkapnya.

Diapun menambahkan gejala terrorisme dan radikalisme di Indonesia, memang mesti disikapi secara komprehensif, karena gerakan radikalisme di Indonesia semakin menguat pasca Pilkada DKI. Terlebih, setelah kasus terros Bom Kampung Melayu dan penguasaan ISIS atas Kota MARAWI di Philipina, yang sudah sangat dekat dengan Provinsi Sulawesi Utara. Pemerintah Pusat, bagaimanapun mesti berupaya keras agar penyebaran paham dan sikap radikalism, sedapat mungkin diminimalisasi lewat program deradikalisasi, maupun proses penguatan paham kebangsaan.

“Dalam konteks ini, maka Pengalaman Sulawesi Utara, mestinya bisa dan mampu memberi pilihan alternatif dan sikap toleransi terbangun yang bisa atau mampu disistematisasi dalam konteks Nasional. Kebersamaan yang selalu saling mengisi dan saling menjaga dalam kebersamaan Mapalus sebagai lokal wiedom, perlu diperkuat agar mampu terus merekat dan menjauhkan Sulut dari  aksi terror dan menyebarnya paham radikalism.

“Kami menolak segala macam terorisme dan penyebaran paham radikalisme yang tidak bertumbuh dan bukan bagian dari sejarah Bangsa Indonesia yang multi etnis, multi-agama dan multi budaya. Tidak ada tafsir tunggal atas satu agama, satu etnis, satu budaya, tetapi atas kebersamaan. Maka, dari Kota Manado, kami tegaskan kecintaan warga Sulawesi Utara atas Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sekaligus, menolak aksi terror dan paham radikalism di manapun di Indonesia sambil berusaha mengajarkan dan menularkan prinsip toleran dan juga mapalus kebersamaan budaya bagi menyenyahkan terror dan radikalisme,”pungkas Ronie yang diapit Ketua panitia dan sekretaris Kol. James Vanderslot, SH, MH serta Donald Sendouw.

(Onal Gampu)

 

About Redaksi

Check Also

Amir Liputo Sosbang 4 Pilar Kebangsaan Kepada Ormas KKIG di Kelurahan Maasing Kecamatan Tuminting, Dapil Kota Manado

Manado, sulutlink.com – Dalam rangka upaya penguatan kesadaran Berbangsa dan Bernegara kepada masyarakat, Dewan Perwakilan …