web analytics

Surga Bukan Tempat Wisata

Beverly Nangon RunturambiiFenomena foto selfie, wefie, groufie melanda para pejabat, artis, guru, murid, ibu rumah tangga, petani dan lain sebagainya. Hal ini bukan saja dilakukan oleh orang muda tapi oleh semua golongan usia. Selain itu fenomena ini  dilakukan dimana saja dan kapan saja mulai dari acara pesta pernikahan hingga acara kedukaan, mulai dari dapur hingga hotel mewah.

 

Selain hal diatas fenomena lainnya adalah hunting tempat-tempat wisata dan spot-spot buat foto keren. Tempat wisata diburu dalam dan luar negeri, dari yang ramai dikunjungi hingga yang masih perawan alias belum terjamah dunia luar, tujuannya kembali kepada hal diatas yakni menikmati alam dan diabadikan dalam foto atau video lalu membagikannya ke media sosial. Tentu saja fenomena ini masih dianggap sebagai hal yang wajar, seperti anjuran dari para psikolog bahwa manusia harus sekali-kali refreshing yakni sejenak keluar dari rutinitas hidup sehari-hari agar tidak mudah stress.

 

Bicara mengenai tempat wisata ada satu tempat yang hingga saat ini belum ada seorangpun manusia yang dapat menggambarkan keindahannya, namun dipastikan bahwa tempat ini sungguh nyata. Tempat ini dikisahkan sebagai tempat mulia, tempat yang indah sungguh indah dan penuh kedamaian tak heran bila semua orang ingin sekali kesana. Tempat itu adalah Sorga. Semua orang ingin kesana, sayangnya banyak manusia yang ingin ke sana hanya ingin pergi melihatnya seperti orang yang sedang berwisata tapi tidak ingin tinggal disana. Apa maksudnya? Banyak orang ingin ke sorga agar bisa melihat jalan dari emas, gerbang mutiara, bermain ditaman ‘safari’ yang penuh dengan binatang buas di bumi tapi jinak disana, mereka memikirkan sorga sebagai tempat wisata, asal sudah lihat, foto-foto disana sini, setelah lelah mampir makan dan minum dari buah pohon kehidupan dan setelah itu pulang lagi ke bumi dan hidup kembali ke rutinitas sehari-hari. Sungguh ironis.

 

Mengapa manusia lebih memilih menjadikan sorga sebagai tempat wisata bukan sebagai tujuan akhir tinggal bersama Allah? karena manusia tidak akan tahan tinggal disana, kebiasaan  hidupnya di bumi tidak sesuai dengan standar Allah. Tabiat manusia  tercemar oleh dosa. Setan ingin agar manusia berpikir asal saya hidup baik, berkelakukan baik, tidak urus urusan orang lain, melakukan kewajiban dengan memberikan persembahan persepuluhan serta pecaya pada Tuhan pasti masuk sorga, padahal tidak semudah itu. Matius 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga’ Yesaya 26:2 ‘Bukalah pintu-pintu gerbang, supaya masuk bangsa yang benar dan yang tetap setia’. Hal yang perlu kita perhatikan disini adalah kita harus melakukan kehendak Allah dengan benar dan setia.

 

Siapakah manusia yang hidupnya selalu benar? bila hidup kita saat ini masih saja terus menerus melakukan dosa seperti yang tertulis dalam Galatia 5:19-21 kita tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Matius 3:2 menuliskan “Bertobatlah karena kerajaan Sorga sudah dekat”. Allah adalah setia dan adil akan mengampuni dan menyucikan kita dari segala kejahatan bila kita mengaku dan bertobat. Dosa terbesar sekalipun yang ada didunia ini dapat Allah ampuni, tapi Allah tak akan membiarkan dosa sekecil apapun ada dalam kerajaan Sorga.

 

Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui berserulah padaNya dan mohon tuntunanNya.  Jangan biarkan setan mempengaruhi pikiran serta pandangan kita tentang kerjaan sorga seperti tempat wisata saja. Sorga bukan tempat wisata itu adalah tempat tinggal kita bersama Allah dan orang-orang benar lainnya selama-lamanya.

————————————————

Beverly Runturambi

BAIT Balikpapan

About Echel

Check Also

STRATEGI RADAR GELAP SEORANG LAKSAMANA Oleh : Bert Toar Polii

Turnamen Indonesia Open pengganti Antar Klub sudah mulai dipertandingkan di Kejurnas Bridge 2017 di Sidoardjo, …