web analytics

Tunggu Babi Nae Kalapa Baru Oto Maso di Tondei

“Tunggu babi nae kalapa baru oto maso di Tondei”. Ungkapan tersebut selalu muncul di lingkungan warga Desa Tondei, Kecamatan Motoling Barat, Kabupaten Minahasa Selatan. Rasa pesimis dan kecewa selalu muncul yang mengandung arti tentang mustahilnya Desa Tondei dikunjungi kendaraan bermotor. Kondisi jalan sangat tidak memadai. Begitu buruk.
Problem transportasi serta jalanan yang rusak dan sempit menjadi kendala akses masuk dan keluar daerah ini. Padahal desa yang terletak di daerah perbukitan ini memiliki tanah yang subur dengan aneka hasil bumi yang bermacam-macam, diantaranya adalah pisang goroho, kelapa, gula aren, gula merah, tuak, durian, dan langsat. Tidak adanya akses jalan membuat produk pangan yang dihasilkan dari perkebunan atau hutan rakyat tak bisa dipasarkan secara maksimal.
Kondisi tersebut berubah sejak tahun 2015 lalu. Pengaspalan jalan dilakukan. Akses ke desa Tondei perlahan mulai terbuka.
“Hasil bumi semakin mudah diangkut ke sentra-sentra pemasaran terdekat. Dengan pembangunan infrastruktur jalan tersebut roda ekonomi di desa perlahan menggeliat dan diharapkan terus  berpengaruh bagi kesejahteraan masyarakat,” ungkap Fritz Wotulo, salah seorang penduduk di Desa Tondei.
Hukum Tua Desa Tondei Satu, Nita D. F. Lumapow, mengatakan, proyek perintisan dan pengerasan jalan bersumber dari Dana Desa (DD). Dari total jumlah DD Tahun 2015 sebanyak Rp. 252.575.000, sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur. Selain diproyeksikan untuk perintisan jalan desa sepanjang 850 meter dan  pengerasan jalan sepanjang 225 meter, dana tersebut juga disalurkan untuk pembangunan talud sepanjang 141 meter.
“Puji Tuhan, respons  masyarakat terhadap pembangunan infrastuktur sangat positif. Dukungan mereka ditunjukkan dengan gotong royong pada berbagai kegiatan pembangunan yang diadakan oleh pemerintah desa, termasuk pengerasan jalan desa beberapa waktu lalu,” ujar Hukum Tua Nita.
Tim Satuan Tugas (Satgas) Desa di lapangan melihat langsung manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Seorang penjual sayuran dengan sepeda motornya melenggang santai menjajakan barang dagangan ke masyarakat. Seorang ibu rumah tangga yang membeli sayur-sayuran pun mengaku sangat diuntungkan dengan adanya rintisan jalan desa yang semakin memudahkan akses untuk berbagai keperluan sehari-hari.
 “Kita ingin menegaskan bahwa negara hadir di Desa Tondei Satu ini. Kontribusi negara nampaknya tidak sia-sia,” ujar Ketua Satgas Desa, Kacung Marijan. Kacung menambahkan, DD harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk membangun infrastruktur yang paling dibutuhkan di desa.
Hukum Tua Nita mengatakan, DD telah menyentuh langsung masyarakat desa dan mendorong kemajuan desa. Dana Desa tahun 2016 di wilayahnya pun diproyeksikan untuk paving blok sejumlah jalan desa dan penerangan tenaga surya.
5 Hukum-Tua-Desa-Tondei-Satu-Nita-Lumapow

About Echel

Check Also

Wagub Steven Kandouw Buka Pemilihan Nyong Noni Sulut 2021

Manado – Wakil Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Steven Kandouw Membuka Pelaksanaan Karantina Pemilihan Nyong Noni …