web analytics

Umat Islam Amerika kumpulkan Rp1,3 miliar untuk Perbaikan Pemakaman Yahudi

Pasca-aksi vandal sedikitnya 170 nisan rusak, di komplek pemakaman Yahudi, di St Louis, Missouri, Amerika Serikat, Selasa (21/2/2017). © Robert Cohen /Ap Photo

Amerika Serikat, Sejumlah aktivis Muslim di Amerika Serikat menggalang dana guna membantu perbaikan kompleks pemakaman Yahudi, Chesed Shel Emeth Society, di St Louis, Missouri, AS.

Hingga Kamis (23/2/2017), penggalangan dana sudah mencapai USD100 ribu (sekitar Rp1,3 miliar) dan dana tersebut berasal dari sekitar 3.700 donatur yang mayoritas adalah umat Muslim yang menetap di AS.

Saat dimulai pada 21/2/2017, aksi ini hanya menargetkan angka USD20 ribu (sekitar Rp260 juta) yang langsung terpenuhi dalam waktu tiga jam.

Adapun pencetus aksi penggalangan dana ini adalah pasangan aktivis Muslim, Linda Sarsour dan Tarek El-Messidi.

“Muslim Amerika berdiri dalam solidaritas dengan komunitas Yahudi Amerika untuk mengutuk tindakan mengerikan sekaligus penodaan ini,” kata Sarsour, dalam laman kampanye.

Aksi sosial itu merupakan respons balik atas perusakan kompleks pemakaman Yahudi tersebut, pada awal pekan ini mengakibatkan ratusan nisan rusak.

Dilansir dari majalah Time, melaporkan aksi sosial ini disambut apresiasi dari komunitas Yahudi terutama dari mereka yang anggota keluarganya dimakamkan di kompleks tersebut.

“Bagi saya, itu (aksi umat Muslim) curahan kasih,” kata Barbara Perle, yang kakek-nenek dan sejumlah kerabatnya dimakamkan di kompleks tersebut.

Bentuk solidaritas antara komunitas Muslim dan Yahudi di AS juga terjadi kala peristiwa terbakarnya sebuah masjid di Texas, pada Januari silam.

Kala itu, warga AS mengumpulkan lebih dari USD1 juta (Rp13 miliar) untuk membangun ulang masjid. Pun, komunitas Yahudi menyerahkan kunci sinagog kepada para Muslim, agar mereka bisa tetap beribadah.

Kejadian perusakan kompleks pemakaman Yahudi tersebut terjadi pada 21 Februari 2017. Sedikitnya 170 nisan rusak porak-poranda di kompleks pemakaman Yahudi ini yang sudah beroperasi sejak 1893 itu.

Bagi para pemeluk agama samawi (Islam, Kristen, dan Yahudi), makam adalah simbol kultural. Mengingat hal itu, sebagian orang menganggap aksi vandal ini sebagai teror untuk umat Yahudi di AS

Polisi masih melakukan penyelidikan dalam kasus ini. Mereka juga tak ingin menyimpulkan aksi vandal ini sebagai sebuah tindakan “kejahatan kebencian” yang berbasis pada kebencian atas agama, budaya, atau ras tertentu.

Untuk diketahu, saat ini di AS memang tengah terjadi gelombang ancaman antisemit–paham yang tak suka pada segala hal menyangkut Yahudi.

Sejak awal 2017, telah terjadi 53 ancaman bom terhadap pusat-pusat komunitas Yahudi di AS. Vox menulis, hal ini beriring dengan melonjaknya kejahatan rasial pasca-terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.

Menurut Vox, Trump juga sempat enggan mengutuk ancaman terhadap komunitas Yahudi. Bahkan, sang presiden seolah tak ingin mengklasifikasi ancaman itu sebagai “kejahatan kebencian.”

Namun, usai penyerangan kompleks pemakaman ini, retotika Trump mulai berubah. “Anti-Semitisme mengerikan, dan itu akan berhenti,” katanya kepada MSNBC.

About Redaksi 2

Check Also

Mario Mambu/Cliff Tangkuman dari Raewaya Sulut Perkasa di Seleknas AG 2022

Oleh : Bert Toar Polii Sulutlink.com – Mario Mambu/Cliff Tangkuman dari Raewaya Sulut Perkasa di …